G, maafkan ayah anakku

hari ini, dua kali engkau kubuat menangis. saya yakin, G belum mengerti sepenuhnya kenapa harus terjadi, tapi saya harap saat anakku tercinta membaca tulisan ini G bisa mengerti.

hari yang sangat berat untuk G sejak kebersamaan kami. tak hanya G, saya pun harus melewati beberapa menit itu dengan berat hati. kejadian itu berawal saat saya ada tugas ke bone.

rabu pagi, 10 februari 2010, bertiga dengan kepala biro seputar indonesia sulawesi selatan mukhramal azis dan koordinator sirkulasi hasrul, berangkat ke bone. hari ini, kami ada pertemuan dengan dinas pendidikan bone.

“wah, tugas bagus nih. sekalian saya ketemu G setelah 18 hari berpisah,” pikirku. tiba di bone sikitar pukul 13.00, kami langsung ke rumah puang etta dan mama puang di jalan s limboto. puang pipa sama bunda sudah menyiapkan menu makan siang.

tangis keras G menyambut karena daeng cacce atau daeng nisa mendahului G menyambut ayah. seperti kebiasaan, G mojjo. hanya beberapa saat, tangis G berganti dengan tawa ceria. seakan dia G tidak mau melepaskan pelukan dari saya. kangen sudah pasti.

sejak keberangkatannya ke bone tanggal 23 januari lalu, dia seolah ingin menumpahkan semua kerinduan. tak hanya G pastinya, tapi saya juga.

hanya sayang, pukul 13.30 wita, kami harus bergerak ke tempat pertemuan karena pertemuan pukul 14.00 wita. tangis G pecah. pelukan keras seolah enggan dia lepaskan dari saya. beberapa saat saya memberikan pengertian kalau saya akan pergi kerja, alasan seperti biasa, tapi tetap saja gelengan kepala sebagai jawabannya.

pelukan bertambah erat. yah, kami harus mengorbankan rasa. saya hanya bisa melihat G menangis. sya harus pergi.

acara berakhir sekitar pukyl 17.15 wita. sebelum balik ke makassar, saya sempatkan pulang ke rumah puang etta lagi. intinya ketemu sama G.

beberapa waktu yang ada saya maksimalkan untuk berbincang dengan G, bermain. malam menjelang, hati saya kembali dilingkupi rasa. saya harus berangkat.

“saya ikut pulang ke rumah (mama aji),” kata bunda. jadilah G dan bunda diantar dulu ke rumah mama aji di jalan husain jeddawi. “sama ayah ke makassar pakai mobil sindo,” begitu kata G. nampaknya ada salah pengertian.

G pikir, kita sudah mau berangkat ke makassar bersama saat itu. padahal hanya diantar pulang ke rumah mama aji.

tangis G kembali membahana saat saya harus berangkat sesaat setelah sampai di rumah mama aji. “ayah berangkat ke makassar dulu yah. ayah mau kerja. kan besok G berangkat ke makassar sama bunda,” kata saya mencoba memberikan pemahaman kepada G.

tapi, G tetap kekeh dengan pendirian kalau mau ikut langsung ke makassar. yah, dua kali dalam sehari G harus menanggung kesedihan yang sangat berat. ah, ternyata, kedatangan saya hanya memberikan kegembiraan sesaat untukmu anakku. kegembiraan yang G rasakan hanya beberapa jam, mungkin tidak sebanding dengan kesedihan yang dialaminya.

harapan terbesar saya, saat G membaca tulisan ini semoga bisa mengerti. maafkan ayah anakku

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada Februari 11, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: