hari ke-16

tiap pagi saya harus menghabiskan dua mug kopi hitam. kejadian itu berulang hingga beberapa hari. bahkan beberapa hari kemudian, kejadian kembali terulang. dua mug kopi hitam tersaji di atas meja.

apakah saya pagi itu amnesia hingga membuat dua mug kopi? tidak, pastinya saya tidak sedang hilang ingatan. pagi itu saya hanya menyedu satu kopi di dalam mug saya. hanya saja, ada orang lain yang menyedu kopi hitam yang sedikit encer di mug yang berbeda. tapi, juga untuk saya.

orang yang menyedukan kopi untuk saya pagi itu adalah seorang perempuan cantik, bidadari yang menemaniku tidur sejak beberapa hari belakangan itu. perempuan yang menyerahkan dengan penuh keiklasan dan pengabdian miliknya yang berharga. dengan senyum di bibir dia menyerahkan selaput keperawanannya. perempuan yang membuat ranjangku semakin sempit dan berderit.

yah, perempuan itu yang membuat pagi dan kopiku  menjadi tidak seperti biasanya.

rutinitas beberapa tahun terakhir yang sudah saya lakoni dengan begitu sempurnya harus berganti dengan tradisi baru dengan kehadiran perempuan yang aku sayangi itu. bentuk pengabdian dan rasa sayang melalui  benda cair hitam, pahit, dan manis sebagai bentuk cinta menyambut pagi.

saya harus berhenti menyedu kopi sendiri untuk memberinya ruang akan eksistensinya. sama halnya ketika saya harus rela kasur dan selimut saya  dibagi.

kerelaan saya pun harus bertambah dengan rasa kopi yang lebih manis dan kurang kental racikan tangan-tangan lentik itu. engkau bukan pembuat kopi yang mahir, tapi saya menikmatinya. karena motivasi secangkit kopi ini berbeda dengan kopi buatan daeng sija atau daeng annas. kopi ini tidak dibuat dengan motif bisnis, tapi dengan cinta.

yah, saya harus berbagi. tradisi membuat kopi kental sendiri saat menikmati pagi di teras rumah harus saya hentikan agar lambungku tidak terpaksa menikmati kafein terlalu tinggi setiap pagi.

ehem…. saya adalah laki-laki mandiri sebelum empat tahun lalu. dari bocah saya sudah diajarkan hidup mandiri. mulai dari mencuci sepatu, kaos kaki, dan celana dalam sendiri hingga saya harus mencuci seluruh pakaian saya sendiri. kemadirian semakin terasa waktu saya hidup mondok di penjara suci.

saya terbiasa dengan pekerjaan rumah, jangankan bersih-bersih, dalam hal masak memasak saya termasuk bisa diandalkan dengan segala variasi menu.

kebiasaan menyedu kopi pekat hitam dipagi hari saya lakoni sejak saya kuliah. enam tahun saya kuliah, kebiasaan itu sudah sangat melekat. usai salat subuh, saya sudah nongkrong di teras rumah menikmati pagi membaca buku sambil menunggu penjual koran lewat. biasalah, kami mahasiswa yang belum bisa berlangganan koran hanya bisa membeli koran eceran yang kebetulan beritanya menarik.

sambil membaca buku dan menunggu anak kecil loper koran, air dijerang di atas kompor minyak tanah. seakan sudah saya hafal, beberapa saat saya harus menghentikan bacaaan karena air sudah mendidih untuk membuat satu mug besar kopi kental.

itulah rutinitas pagi yang saya jalani setiap pagi. kebiasaan itupula yang selalu merusak jadwal kuliah pagi saya. dua kali dalam sepekan, saya mencuci pakaian. setelah itu, kalau sempat saya menyeterika. kalau tidak, yah dibiarkan saja dipakai dalam kondisi belum diseterika. ada triknya bos, tinggal tutup pakai jaket, aman deh.

kebiasaan itu masih berlanjut saat saya merantau ke batam. hidup sendiri pastinya saya harus mandiri untuk urusan domestik. menikmati kopi di pagi hari sambil bercengkerama dengan teman-teman kamar sebelum meluncur ke tempat liputan menjadi saat-saat menyenangkan.

empat tahun lalu, semua rutinitas yang sudah mendarah daging itu harus saya pangkas. meskipun sesekali saya masih melakukan pekerjaan domestik, tapi tidak menjadi rutinitas. saya harus jujur mengatakan, hanya saya lakukan saat ada keinginan atau membantu. tidak lagi wajib.

perempuan cantik yang saya pasangkan cincin di jari manisnya seakan memangkas tradisi hidup saya. saat saya pulang malam, biasanya saya sangat mahir membuat nasi goreng cepat saji, kini semua sudah tersaji di atas meja dengan menu luar biasa. makan dini hari, saat pulang kantor, selalu ada perempuan cantik menemani. meski tidak makan, menemani bercerita, mendengarkan letih, dan mengurai kusut pikiran membuat perasaan lega.

puihhhh…. terhitung 16 hari belakangan ini saya menjalani hidup dengan sungkan. sekarang sudah tanggal 8 februari 2010. bikin kopi rasanya tidak biasa, masak tangan tak lincah, makan sendiri juga tak nikmat. cucian menumpuk dan koran hanya terhambur di teras rumah. tak ada lagi makan saat pulang kerja. kelaparan lebih baik daripada saya tidak menikmati menu tidak sempurna. pilihan yang lebih baik.

tiga tahun lalu saya selalu dibangunkan dengan cekikikan anak kecil. dua tahun belakangan ini malah semakin seru saat dia membangunkan saya dengan naik di punggung sambil mengajak main. bersepeda keliling perumahan, atau hanya sekadar menonton film kartun. beberapa hari ini, tak ada yang membangunkan saya dengan bau pesing kencingnya di kasur. atau lenguh manja seorang perempuan yang bermanja dalam pelukan.

sejak setengah bulan berlalu, tak ada yang selalu mengingatkan saya akan amanah saya bekerja, “ayah mau kerja, cari uang untuk beli susu. hati-hati yah. G jaga bunda.” celotehan manis itu selalu mengingatkan. tak ada ciuman tangan dan pelukan hangat. meski kening perempuan itu terkadang berkeringat untuk saya kecup, tapi tetap saja membuat rindu dan ingin saya rasakan setiap pagi.

saya merindukan lambaian tangan di teras lantai dua. tatapan mata semangat dan harapan masa depan. yah, 16 hari berlalu tak ada lambaiatan tangan itu. rutinitas yang saya jalani  sejak kelahiran G.

sejak saya serahkan hidupku untuk kebahagiaan seorang perempuan, saya sudah membuat tradisi baru. selain tidur tak lagi hanya bersama bantal guling, tapi bersama perempuan cantik berbau wangi, memberiku kehangatan saat dingin, dan memberiku solusi kala kekalutan.

teknologi komunikasi kata orang bisa mewakili. saya harus mengakui ada benarnya, tapi hanya seper sekian persen. hanya sedikit.

tak adanya “rutinitas” yang sejak empat tahun lalu saya rasakan mungkin bukan yang utama. hanya sembagai pelecut karena pastinya saya tidak harus mengganti rutinitas saya dengan hal-hal yang baru.  saya yakin, G akan kembali mengisi sepanjang sisa usiaku dan perempuan itu akan menemaniku hingga saya meninggal. meski saya tidak yakin tuhan akan memberiku usia yang panjang.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada Februari 8, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: