petani miskin dan kuda

(fisip_unhas] Petani Miskin dan Kuda From: syahrir rasyid Add to Contacts To: fisip_unhas@yahoogroups.com)

PETANI MISKIN DAN KUDA

Seorang petani miskin memiliki seekor kuda yang sangat bagus, yang bahkan mengagumkan rajanya, dan ditawar mahal sekali jika kuda itu mau dijual. Sayangnya, petani itu tidak mau menjualnya.

Tetangga-tetanggany a mendatangi dia dan pada mengomel ; “Kamu itu bodoh. Kamu itu sungguh beruntung kudamu ditawar semahal itu, dan kamu, alangkah bodohnya tidak memberikannya.”

Seminggu kemudian, kuda itu tidak kelihatan pulang kandang sore harinya. Tetangga-tetanggany a kembali datang dan mengomel lagi ; “Nah, itulah akibatnya. Sekarang kudamu hilang, tentu saja ada yang mencurinya. Coba kemarin kamu jual, tentu saja kamu akan untung, dan tidak akan mengalami kerugian begini.”

Sekali ini si petani menjawab ; “Kudaku tidak hilang, tidak juga dicuri orang. Kita tidak tahu itu. Yang kita ketahui hanyalah bahwa kuda itu tidak ada sekarang, tidak pulang ke kandang. Itu saja.”

Para tetangga itu tetap saja mengomel ; mengatakan kalau kudanya telah dicuri, dan dia telah mengalami kerugian besar. Tapi, beberapa hari berikutnya, ternyata kuda itu datang lagi.

Rupanya kuda itu pergi ke hutan, dan sekarang telah pulang ; bahkan membawa serta sepuluh kuda lain menemaninya. Tetangga-tetangga itupun datang lagi mengerumuni petani itu.

“Ah, kamu sungguh beruntung. Ternyata kudamu tidak hilang, bahkan ia telah menambahkan sepuluh kuda lagi bagimu. Kamu sungguh beruntung.”

Sekali lagi petani itu menjawab ; “Ah, tidak perlu dibilang begitu. Cukup dikatakan kudaku telah pulang. Dan bersamanya ada sepuluh kuda lain. Tentang beruntung atau rugi, tidak perlulah disebut-sebut, karena sesungguhnya kita tidak akan tahu.”

Para tetangganya tetap saja tidak dapat mengerti, dan menganggap itu semua sungguh keberuntungan besar bagi petani itu. Lalu beberapa hari berikutnya; anak petani itu terjatuh dari kuda itu ketika sedang mencoba menjinakkan sepuluh kuda liar itu. Terjatuh, dan terluka.

Tetangga-tetangga itupun mengerumuni petani itu lagi. “Yah, benar kamu. Ternyata bertambahnya sepuluh kuda itu bukanlah anugerah bagimu. Malah membawa malapetaka, sehingga anakmu terjatuh dan terluka.”

Kembali petani itu menjawab mereka ; “Bukan begitu. Tidak ada musibah atau anugerah. Kita tidak tahu, sehingga kita tidak dapat mengatakannya.

Cukuplah kalau dikatakan anakku terjatuh dari kudanya, dan sekarang sedang terluka.” Para tetangga tetap saja tidak dapat memahaminya. Seminggu berikutnya, ternyata negeri itu terlibat perang dengan negara tetangganya.

Dan semua pemuda di kampung itu kena wajib militer untuk turun ke medan perang. Hanya anak petani yang terluka tadi yang lolos dari kewajiban itu.

Kembali tetangga-tetangga tadi datang ke petani itu, dan dengan suara muram mereka pada bicara ; “Ah, benar kamu. Terlukanya anakmu bukanlah musibah. Justru itu anugerah, sehingga anakmu dapat lolos dari wajib militer ini. Duh, kami yang justru dapat musibah, karena pasti anak-anak kami tidak akan lolos dari medan perang ini.”

“Ah, berkali-kali aku mengatakan ini, tapi kamu belum mengerti juga. Kalian terlalu biasa menilai dan menghakimi apapun. Kalian selalu menyimpulkan sesuatu atas suatu kejadian kecil, padahal kamu tidak tahu cerita seutuhnya. Kehidupan kita menghampiri kita sepotong demi sepotong, dan kita tidak tahu kisah lengkap kehidupan kita. Hanya Dia Yang Maha Tahu yang tahu kisah lengkapnya.”

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada November 19, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: