Sejarah Ayunan G

Nenek Aji Tangkap Kucing

KENAPA G sangat tergantung dengan ayunannya, pastinya itu bukan tanpa sebab.

Cerita itu berawal saat G baru berusia beberapa bulan. Kalau tidak salah antara usia 2-3 bulan. Tetapi, sebelum usia itu, G sebenarnya sudah diperkenalkan dengan benda yang dilengkapi dengan pegas di ujung atasnya dan jaring berbentuk buntelan di bagian bawahnya.

Perkenalan G dengan benda itu berawal saat usia G memasuki usia 40 hari. Mama Aji dan Bapak Aji membuat acara mappere yang dalam bahasa indonesia berarti ayun. Sebenarnya ini adalah tradisi Bugis, anak yang sudah memasuki usia itu, dibikinkan acara selamatan untuk selanjutnya menjadi awal dirinya di-pere.

Sebenarnya, tradisi itu enggan saya lakukan karena saya tidak mau membiasakan G dengan diayun. Saya mendengar cerita dan melihat sendiri dari beberapa keluarga, termasuk kakak, bagaimana repotnya saat anak mereka diayun.

Karena itu adalah tradisi yang ingin dilakukan Mama Aji dan intinya sebenarnya adalah doa selamatan, saya setujui. Maka mulailah dibuatkan ritualnya yang diawali dengan membaca doa oleh keluarga.

Setelah itu, dilanjutkan dengan awal G naik ke pere yang sudah disediakan. Dalam tradisi, sebelum anak kecil itu dinaikkan, harus didahului dengan memasukkan kucing ke dalam ayun itu. Apa maksudnya?

Makna yang tersirat adalah niat kehebatan kucing seperti anak yang diayun. Bagaimana Kucing? Setiap kali terjatuh atau melompat dalam posisi apapun, atau dibuang dalam kondisi apapun, kaki kucing selalu pertama menjejak di lantai. Tidak pernah kepala atau bagian lain. Pasti kaki duluan yang mendarat. Artinya kucing tidak pernah celaka saat melompat atau terjatuh.

Niat itulah yang diharapkan juga menurun pada anak, sehingga dalam ber-ayun dia tidak pernah celaka. ”Sebenarnya kan intinya adalah doa. Kalau tidak ada kucing juag tidak masalah,” kata Puang Etta menjawab kebingungan Nenek Aji yang datang melapor karena tidak mendapatkan kucing.

Memang, dalam tradisi keluarga saya (dari pihak saya) seperti itu tidak terlalu diperhatikan lagi. Pendekatannya lebih pada agama. Saya sempat melihat Nenek Aji kebingungan. Puang Etta angkat bicara dengan menjelaskan filosofi kucing itu dengan menambahkan kucing tidak mengurangi makna doa.

Hanya saja, Nenek Aji tetap saja terlihat bingung. Dia kembali keluar rumah mencari ke rumah-rumah tetangga. Siapa yang punya kucing. Tidak beberapa lama, dia kembali dengan senyum lebar. Kucing jantan besar dalam gendongannya.

Langsung saja kucing itu dilompatkan ke dalam ayunan. Kucing yang merasa kurang nyaman dengan perlakuan itu langsung terbirit-birit keluar rumah. Entah kenapa, Puang Etta ngomong lagi ”Biasanya haus dua kali dikasi lompat.”

Meski diiringi dengan tawanya, Nenek Aji menaggapinya dengan serius. Lari lagi dia menangkap kucing yang tadi. Kucing itu ternyata sudah kembali ke rumah tuannya. Terpaksa, Nenek Aji menangkapnya lagi dan mengulang tindakan yang pertama.

Tingkah Nenek Aji disambut dengan tawa tamu yang hadir. Memang terlihat lucu karena Nenek Aji begitu bersemangat. Tapi, saya menghargai itu dengan bentuk sayang Nenek Aji kepada G. Dia tidak mau G mendapat masalah dengan ayunnya kelak.

Barulah setelah prosesi itu selesai, G yang masih berumur 40 hari dimasukkan dalam ayunan. Tetapi, hanya sebentar dan langsung saya keluarkan lagi.

Apakah hari selanjutnya G diayun? Tidak, karena saya memang tidak mau G diayun.

Cerita ini bisa dibilang prolog dari apa yang terjadi hingga sekarang, Minggu (27/7 2008), G kecanduan ayun karena tidak bisa dijadikan acuan itu yang menyebabkan G kecanduan.

Jadi bagaimana sampai G kecanduan pere?

Dari analisa saya tidak lepas dari peran Mama Aji. G menjadi anak yang begitu disayang hingga terkadang nyaris tida pernah lepas dari gendongan. G senang digendong. G yang awalnya kalau mau tidur hanya tinggal dimasukkan dalam boks langsung tidur, jadi berubah. Ia baru mau tidur kalau digendong.

Saya pikir, itulah yang menjadi dasar utama. Bunda yang terkadang bercerita kalau sekarang G punya kebiasaan baru, tidak mau tidur jika tidak digendong. Malah, kalau Bunda capek gendong, dimasukkan dalam kereta kemudian didorong. Dibawa jalan-jalan atau berputar-putar G baru mau tidur. Kebiasaan baru yang tentunya cukup merepotkan juga dan mungkin agak unik.

Ayunan G yang tidak pernah terpakai kecuali waktu pertama diresmikan akhirnya dikeluarkan. Saat itu bertepatan dengan Bunda yang sakit lumayan keras. Demam tinggi. Takutnya akan menular ke G dan kondisi Bunda yang memang tidak fit.

Maka jadilah G mulai diayun. Kalau tidak salah, umur G waktu itu sudah masuk usia 3 bulanan, waktu itu saya ada di Makassar. Nah, ternyata G lebih menyukai diayun menjelang tidur. Pertamanya, kalau G sudah tidur nyenyak kami pindahkan ke tempat tidur di ranjang.

Awalnya tidak ada masalah, tapi lama kelamaan G semakin kecanduan. Kalau diturunkan dia langsung terjaga dan menangis. Yah… apa boleh buat, terpaksa sepanjang malam G dibiarkan dalam ayunan hingga dia bangun.

Kabiasaan itu berlanjut hingga saya menulis berita ini. Ayunan yang terkadang menjadi masalah. Kalau G dibawa jalan yang kemungkinan akan lama, barang lain boleh ketinggalan asalkan bukan ayunan. Karena akan menjadi masalah besar.

Pernah lah suatu waktu G ke Jalan Titang di rumah Mama Puang, tepatnya di warung Puang Ani. G sudah terlita mengantuk, tapi ayunannya lupa. Mulailah di rewel. Prinsip tak ada rotan akarpun jadilah. Ban dalam bekas dijadikan sebagai pengganti pegas.

Karena tidak punya pengait, penyambung antara ban dan sarung dipakai sanru nanre alias sendok nasi yang terbuat dari kayu. ”Yanannye diaseng pere sanru nanre (inilah dibilang ayunan sendok nasi),” kata Puang Nanna mengomentari ayun darurat G.

Selamat mappere….G

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: