salat idul adha 1431 h di al markaz

•November 21, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

ngumpul di rumah puang nanna

untuk pertama kalinya G salat idul adha di masjis al markaz al islami jenderal m jusuf dan merayakan lebaran di makassar. yah, idul adha 1314 hijriah kali ini kami tidak sempat untuk mudik ke bone, berlebaran bersama keluarga di kampung halaman.

pertama, alasan karena ayah tidak ada libur lebaran di kantor dan kedua, libur bunda juga hanya satu hari. dengan kondisi itu, sangat tidak memungkinkan untuk berlebaran di bone bersama puang etta, mama puang, bapak aji, mama aji, dan semua keluarga di bone.

hari itu, G terpaksa bangun lebih dini. di hari bahagia itu, G terlihat sangat gembira dan bersemangat. setelah mandi dan berpakaian, kami berangkat lebih cepat, sekitar setengah enam pagi. jarak yang cukup jauh membuat kami harus bergegas lebih cepat.

G memakai baju pemberian abang rio, warna hijau, dipadankan dengan topi hajinya. sebelum berangkat, G action di depan kamera. meski kami datang lebih pagi, ternyata lebih banyak orang yang datang lebih dini. masjid al markaz sudah penuh hingga pelatarannya. kami pun mengambil tepta di halaman. beruntung bunda masih mendapatkan satu tempat di teras masjid.

usai salat, kami singgah di rumah keluarga di maccini. setelah silaturrahmi, kami lanjutkan ke rumah puang nanna di bukit baruga. di sana, puang nanna, puang renal, daeng umpa, daeng fadli, dan ade ali sudah menunggu.

seperti rencana sebelumnya, karena puang nanna sekeluarga tidak pulang ke bone, dia mengajak kita ngumpul bareng di rumahnya. hari itu, puang nanna menyediakan menu spesial, ayam goreng kesukaan G.

alhamdulillah semua senang. usai makan, G bermain bersama daeng umpa dan daeng fadli bermain di taman. ayah tidak ingin melewatkan momen bahagia itu. jadilah tiga “kurcaci” itu jadi modelnya.

tidak berapa lama, bunda dan ade ali bergabung. puas berfoto-foto dan bercerita, kami pulang ke rumah. ternyata, ayah ada janji untuk menjenguk anak teman ayah yang baru melahirkan beberapa hari lalu. namanya om juni dan istrinya tante astin. keduanya teman ayah di kampus, korpala unhas.

siangnya, kami berangkat ke rumah om juni di sudiang bersama om ipul dan om ucok yang sebelumnya datang ke rumah. seperti biasa, melihat anak kecil G sangat senang. mungkin karena memang sudah sejak lama G ingin punya adik.

sore kami pulang ke rumah. ayah ke kantor melanjutkan pekerjaan. bunda dan G di rumah.

inilah cerita aktivitas G di hari idul adha 1431 hijriah di makassar. selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.

G sudah besar…

•Oktober 6, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

berdiri tegap dengan memerlihatkan badannya dan terkadang meninggikan kedua tangannya ke atas layaknya seorang bina raga yang memerlihatkan otot menjadi gaya khas G akhir-akhir ini.

“sudah besar ayah. G sudah besar,” kata G mengiringi aksinya. yah, dia ingin memerlihatkan kepada orang kalau G sudah besar. buka anak kecil lagi.

beberapa bulan terakhir ini (tulisan ini ditulis 7 oktober 2010) G senang dengan sebutan orang besar. G kadang protes kalau dikatakan masih anak kecil. yah, dibandingkan dengan ukuran anak seusianya, G termasuk bongsor.

dokter anak di medical centre (dokter langganan G) bahkan sudah mengingatkan kalau G jangan lagi diberikan vitamin yang ada penambah nafsu makannya. “sudah, tidak usah diberikan. nanti dia obesitas,” kata dokter itu setelah dia bertanya asupan vitamin yang diberikan.

alhamdulillah, perkembangan tubuh G ternyata juga diikuti dengan perkembangan pola pikirnya yang terkadang “sok” dewasa. terkadang ada kata-katanya yang sulit ditebak dan terkadang berposisi menasihati.

“ayah, tidak boleh main api, nanti terbakar,” kata dia kepada saya kalau dia melihat saya memainkan korek api di tangan. banyak lagi kalimat-kalimat yang terkadang tidak bisa diperkirakan.

selamat anakku, tiga tahun delapan bulan sudah kamu hadir menemani perjalanan ini. lebih indah dan bermakna. terima kasih Tuhan, telah menitipkan kepada kami karunia-Mu yang tak terhingga ini. semoga kami bisa menjaga amanah ini.

teruslah tumbuh “besar” anakku. perjalananmu masih panjang untuk mengarungi dunia ini.

ayah, G mau ade’

•Agustus 12, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

keinginan G untuk memiliki adik sudah sering diutarakan. dalam tulisan di blog ini sudah pernah saya tuliskan bahwa G itu menganggap di perut bunda sudah ada adik. dia pun biasa mengajak “adik” yang dianggap ada dalam perut bunda diajak bicara.

pagi ini, kamis (12/8/2010), G kembali mengulang permintaan itu. hanay saja, permintaan itu begitu fasih. “ayah, G mau adik,” kata dia kepada saya dengan mimik serius.

begitu membuncahnya keinginan dia untuk memiliki adik sampai G menyampaikannya dengan begitu fasih dan mimik serius. selain perut bunda yang selalu dia ibaratkan ada adik di dalamnya, anak puang nanna, ade’ ali, yang selalu jadi sasaran klaim G. “G mau ketemu ade’ ali,” kata G.

melihat usianya, G sudah pantas punya adik. kemarin, G sudah berusia 3 tahun, 7 bulan. usia yang sudah cukup tua bagi seorang kakak. beberapa waktu bunda juag sudah berpikir untuk memberikan G adik. alasannya, kalau terlalu jauh jarak G dengan adiknya kurang bagus juga.

bagaimana bunda? semoga ramadan ini menjadi berkah….

Ramuan Mujarab Para Ibu di Dunia

•Juli 22, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

// Resep tradisonal yang diramu para ibu ternyata bisa menjadi obat mujarab banyak penyakit

VIVAnews – Obat tradisonal yang diramu para ibu ternyata bisa menjadi obat mujarab menyembuhkan banyak penyakit. Tak hanya di Indonesia, ternyata resep obat rumahan ini juga banyak diwariskan secara turun temurun ibu-ibu di seluruh dunia .

Salah satunya, ibu di Amerika punya ramuan penyembuh flu yang efektif, yaitu semangkuk sup ayam. Sedangkan orang Jepang mempercayakan teh jahe sebagai obat mujarab pengusir flu, seperti dikutip laman shineyahoo.com.

Ingin tahu, resep tradisonal lainnya yang menjadi obat turun-temurun masyarakat di dunia?

Semangkuk sup ayam pengusir flu
Mengonsumsi makanan berkuah hangat selagi udara dingin, bisa membantu menghangatkan tubuh. Pakar kesehatan dari Universitas Nebraska pun menyatakan, sup Ayam menghambat pergerakan sel darah putih 75 persen, yang dapat mengurangi gejala infeksi saluran pernafasan atas.

Bawang putih untuk sengatan lebah
Cara mengaplikasikannya mudah. Umbi bawang putih dibungkus dengan kain lalu digosokkan pada bagian tubuh yang terkena sengatan. “Sengatan lebah mengandung racun asam, dan komponen alami dari bawang putih akan menetralisir rasa sakit,” kata Ranella Hirsch, MD, asisten klinis profesor di Boston University School of Medicine di Massachusetts.

Teh Herbal Chamomile untuk mengatasi gejala flu
Resep ini merupakan resep turun temurun para ibu di Yunani. Cara membuatnya, isi panci dengan dua cangkir air mendidih, tambahkan satu sendok teh chamomile, satu tongkat kayu manis, cengkeh dan bisa juga ditambah dengan tiga irisan jeruk atau kulit lemon. Biarkan bercampur selama lima menit. Sebagai penambah rasa, sajikan teh dengan tambahan satu sendok teh madu.

Kathi Kemper, MD, Direktur Pusat Pengobatan Integratif di Wake Forest University School of Medicine di North Carolina mengungkapkan, chamomile bisa memberikan efek relaksasi, madu dapat membantu meredakan batuk, dan jeruk atau lemon untuk mengusir kuman.

Teh Jahe peredam flu
Campur dua pertiga cangkir air mendidih dengan dua sendok teh jahe parut dan dua sendok teh gula. Tambahkan beberapa iris jahe segar dan air teh. Jahe dikenal sebagai salah satu herbal yang dapat merangsang sirkulasi yang akan membantu tubuh membuang hawa dingin lebih cepat. “Jahe juga telah terbukti dapat mengurangi mual,” kata Dr Kemper.

Telur Rebus untuk meringankan sakit kepala
Resep dari Cina ini percaya bahwa telur rebus bisa meredakan nyeri sakit kepala. Caranya, rebus tiga telur dan kupas cangkangnya dengan cepat. Bungkus satu dalam saputangan katun, lalu usapkan di bagian kepala, wajah, leher dan punggung.

Lakukan hingga telur dingin, setelah ulangi buang dan ulangi dengan telur hangat lainnya. Setelah itu, disarankan jangan mandi selama 24 jam.

“Tidak seorang pun dari ahli di Cina bisa mengetahui efek positif dari obat ini. Tapi, tampaknya ramuan ini mujarab bagi masyarakan Cina,” kata Judy Fulop, MS, ND, spesialis kedokteran integratif di Northwestern Memorial Hospital di Chicago, Amerika.

Cuka sari apel untuk luka bakar
Orang Jerman sering menggunakan cuka apel untuk menyembuhkan luka bakar. Caranya, oleskan cuka sari apel pada bagian tubuh yang terbakar. Jika luka bakar meliputi seluruh tubuh, tuangkan dua atau tiga cangkir cuka ke dalam bathub dan berendam dalam air.

Tak hanya itu, lidah buaya juga akan bekerja lebih baik pada kulit terbakar, tetapi ketika semuanya gagal, hanya sari cuka apel yang bisa membantu, karena sifat alkalin cuka bisa mengurangi rasa sakit.

Madu dan kayu manis untuk mengatasi jerawat
Resep dari para ibu di Afrika Selatan ini sering digunakan sebagai facial untuk menyembuhkan jerawat. Caranya, campurkan empat sendok makan madu dengan tiga sendok teh bubuk kayu manis. Sebelum tidur, oleskan ramuan ini ke wajah Anda. Biarkan semalaman. Di pagi hari, bilas dengan air hangat.

“Kayu manis adalah bagian paling penting dari campuran ini karena bertindak sebagai anti-inflamasi, dan dapat menurunkan kemerahan dan bengkak,” kata Dr Hirsch.

• VIVAnews (http://kosmo.vivanews.com/news/read/166187-ramuan-mujarab-para-ibu-di-dunia)

bersama puang iding ke bone

•Juli 19, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

perjalanan ke bone bersama G selalu ada saja cerita menarik. sekitar bulan maret tahun ini (2010), untuk pertama kalinya bertiga, bunda, ayah, dan G pulang ke bone. pengalaman pertama itu sudah ayah ceritakan dalam bagian lain blog ini.

awal bulan juli tahun ini, tepatnya jumat (9/7/2010), kami kembali mengulang perjalanan ke bone. pastinya dalam suasana yang berbeda dengan cerita menarik. dalam rombongan ada om syahril dan puang iding. pengalaman seperjalanan dengan puang iding bersama G sebenarnya sudah bukan pengalaman perdana karena beberapa tahun lalu, G juga pernah dalam perjalanan bersama dengan puang iding. hanya saja, waktu itu G masih terlalu kecil untuk diajak berceloteh. kali ini dalam suasana yang lebih berbeda, meski puang iding tidak datang bersama eyang.

perjalanan ke bone kali ini pastinya sudah dalam rencana panjang kami. sejak bulan lalu, bunda dan ayah sudah berencana untuk pulang ke kampung halaman. tujuannya adalah menghadiri pesta pernikahan puang wale (andi tenri wale) putri kedua almarkum puang lipu-petta tungke.

ayah sudah memersiapkan rencana mengambil cuti. menjelang hari keberangkatan, kabar gembira datang. puang iding juga akan menghadiri pestanya puang wale. “saya tiba di makassar sekitar hari jumat siang. tidak usah dijemput. nanti saya kabari,” kata puang iding saat menelpon ayah.

ternyata, puang iding tiba lebih awal. hari kamis, puang iding sudah di makassar. keesokan harinya, jumat, kami berangkat. setelah mobil rental diantar ke rumah, terlebih dahulu menjemput bunda di kantornya di sungguminasa, gowa. hari itu bunda harus ijin pulang lebih awal. perjalanan dilanjutkan menjemput puang iding di hotel di daerah pantai losari.

seperti biasanya, puang iding yang bawa mobil. perjalanan dilanjutkan. G bersama ayah duduk di depan. sepanjang perjalanan G berceloteh. terkadang G tertidur dalam pelukan. G terlihat menikmati perjalanan. yah, dibandingkan memakai mobil umum, pastinya memang lebih menyenangkan perjalanan kali ini.

kami menyempatkan diri beristirahat sejenak di rumah makan cijantung, daerah maros. setelah ngaso, kami lanjutkan perjalanan. dalam perjalanan selanjutnya, G mengeluh pusing. beberapa cara ayah dan bunda lakukan untuk mengurangi rasa pusing yang dikeluhkan G. namun, nampaknya tak berhasil. lagi pengalaman terbukti.

kenapa saya katakan lagi, karena sepanjang perjalanan itu, dua kali puang iding mampu memberikan solusi. saya pikir ini adalah pengalaman yang pastinya lebih matang dibandingkan ayah dan bunda. puang iding dan eyang lebih  pengalaman yang dibuktikan dengan semakin dewasanya puang aga dan puang puput yang kini kuliah di yogyakarta.

saat G mengeluh pusing, puang iding mengajaknya tebak-tebakan binatang sepanjang perjalanan. “apa itu?” menunjuk sapi di pinggir jalan. sigap G menjawabnya dengan benar, “sapi.” beberapa kali puang iding menyelinginya dengan bertanya bunyi binatang atau terkadang mengajak G berdebat dengan biantang yang dilihatnya. “itu sapi, bukan kambing,” protes G kepada puang iding.

trik puang iding berhasil. G melupakan rasa pusing yang dikeluhkan. sebelumnya, saat terjadi insiden, jari G terjepit pintu mobil yang membuatnya rewel. G terus-terusan mau digendong sama ayah. waktu itu kita singgah makan di dekat perbatasan makassar-maros.

“liat pesawat. tunggun pesawat di depan,” kata puang iding. wah, kenapa tidak dari tadi saya berpikir seperti itu. di situ kan dekat dengan bandara. semangat G membuncah keluar menunggu pesawat. tidak beberapa lama, pesawat yang dinanti terlihat sangat jelas. “dada puang pipa. sampai jumpa. abang rio,” teriak G seraya melambaikan tangannya.

sepanjang perjalanan puang iding banyak bercerita soal pengalaman, tentunya itu menjadi nasihat berharga untuk bunda dan ayah untuk mengarungi hidup ke depan.

alhamdulillah, sekitar 175 kilometer perjalanan makassar-bone dengan jalan berliku dilalui dengan gembira dan penuh cerita berharga. saat itupun, kami sempat melontarkan janji, semoga perjalanan  selanjutnya akan lebih nyaman. semoga.

“assalamu alaikum, G bangun yuk”

•Juli 12, 2010 • 3 Komentar

jujur kami, bunda dan ayah, harus memohon maaf kepada G. beberapa waktu belakangan ini, terhitung  akhir tahun lalu (2009) kami harus melibatkan G dalam pelbagai urusan kami. mulai sejak bunda mendaftar jadi pns di gowa, hingga kemudian lulus, G selalu terlibat aktif di dalamnnya.

keterlibatan G semakin nyata saat ini. G ikut ke kantor, entah itu ke kantornya bunda atau ke kantor ayah.

sejak bunda aktif masuk kerja, G juga punya rutinitas baru. harus bangun pagi. sekitar pukul setengah tujuh pagi, kami sudah harus mengganggu nyenyak tidurmu anakku. “assalamu alaikum, G bangun yuk,” ucapan setiap pagi yang kami sampaikan saat membangunkanmu.

beberapa saat kami harus menunggu momen agar G tetap enak bangunnya. terlihat jelas kantuk di matamu anakku. namun, kami harus melakukan ini. di rumah kita hanya bertiga, kalau ayah mengantar bunda ke kantor, siapa yang menjaga G?

meski terlihat bermalas-malasan, G tetap nurut. sesaat kemudian, berganti ceria. dinginnya air di pagi itu harus G tahan. yah, terkadang kita harus berjuang keras karena G selalu ingin cepat menyelesaikan mandinya. kami juga mengerti, airnya terlalu dingin.

terkadang datang mama aji atau om syahril sehingga kami tidak perlu menganggu jam tidurmu anakku.

bunda dan ayah yakin, masa-masa ini harus kita lalui bersama. kami yakin ada hikmahnya. tadi pagi, senin (12072010), G ikut sama bunda. “di kantor ada teman kantor bunda yang seumuran G. dia juga dikasi ikut sama mamanya,” kata bunda beberapa waktu lalu.

ilo namanya. ternyata, G sudah kenal dengan temannya itu. dalam beberapa waktu ke depan, bunda dan ayah sebenarnya sudah punya rencana. G nantinya akan masuk sekolah, taman kanak-kanak.

“kamu harus cari orang untuk jaga G. bukannya tidak sayang sama anak yah, tapi kalau dia ikut terus akan mengganggu pekerjaan kamu. kalau ikut sama kamu pasti menganggu, begitu juga kalau ikut sama bundanya,” kata puang iding.

hari itu, kamis (8/07/2010), puang iding datang dari banjarmasin, untuk menghadiri acara perkawinannya puang wale di bone. hari itu G ikut sama ayah ke kantor, sekalian saya bawa ketemu sama puang iding di kantor.

pastinya bunda dan ayah meyakini apa yang dibilang puang iding benar. hanya saja, kami belum ingin memilih jalan itu. insya Allah, kalau kami menemukan orang yang tepat kami akan melakukan itu.

untuk sementara, biarlah kami melakoni ini dulu. dengan segala keterbatasan, kami berharap G bisa menikmatinya. anakku, mungkin ini bukan situasi yang cukup menyenangkan untuk engkau nikmati, tapi kami berharap ada hikmahnya.

kami yakin, proses ini akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu dengan upaya yang kami lakukan. ada makna besar yang coba kami tanamkan. ada harapan dan mimpi indah yang ingin kita capai bersama. kami yakin itu.

selamat pagi G, tetap semangat….

G belajar berenang

•Juni 30, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

apa perkembangan baru? G mulai belajar berenang. hari jumat lalu (25/6/2010), untuk kedua kalinya kami mengajak G berenang. yah, selama di makassar, memang baru dua kali G kami ajak berenang atau setelah bunda membelikan kaca mata berenang dan pelampung.

sebelumnya, kami mengajak G berenang di kolam renang kodam vii/wirabuana, jalan urip sumoharjo. karena ingin mencoba kolam renang yang lain, minggu lalu kami mengajaknya berenang di kolam renang mario di sungguminasa, gowa.

ceritanya, hari itu saya libur. pagi-pagi, saat mengantar bunda ke kantor, kami menyusun rencana berenang itu. nanti sore, kalau menjemput bunda, kita akan singgah berenang.

pulang ke rumah, ayah berdua dengan G. sekitar pukul 3 sore, bunda menelpon kalau dia sudah pulang. “ayo G, kita pergi berenang,” ajak ayah. G terlihat antusias. kantong plastik tempat peralatan berenagnya, kaca mata dan pelampung, langsung dia tenteng. “ayo ayah,” ajak G bersemangat.

berdua kami meluncur. kebetulan, letak kolam renang tidak jauh dari kantor bunda di pemda gowa. belum lagi ayah parkir motor dengan benar, G sudah melompat turun saking semangatnya.

beberapa waktu lalu, saat bunda mendaftar di gowa sebagai salah satu abdi negara, kami pernah mengajak G ke tempat itu. G sangat ingin berenang. kala itu kami memang sempat menjanjikan kalau nanti kami akan mengajaknya bereanng di situ.

alhamdulillah, janji kami bisa tepati jumat itu. selain karena ada kolam renang, di bawah kafe, ada kolam ikan. G memang sangat senang melihat ikan. nah, jadilah G sangat senang di lokasi itu.

usai berganti baju, kami berenang. seperti biasanya, bunda hanya menonton. ternyata G masih ketakutan saat dilepas. alhamdulillah, dalam prosesnya sedikit-sedikit dia mulai berani dan mendapat cara-cara baru.

melihat orang mengentakkan kakinya ke belakang saat di dalam air, G juga mencoba. sampai dia temukan cara. dia memeluk dari belakang dnegan kaki menjuntai ke belakang. “ayo ayah, mobilnya jalan,” kata dia sambil memeluk erat leher ayah.

semakin kencang dia mengentakkan kakinya, G berharap laju jalan saya dalam air juga bisa semakin cepat. “bagaimana caranya kita ajar G berenang, kita saja tidak tau berenang,” kata bunda.

yup, betul kata bunda, ayah tidak tau berenang. malah saya sempat trauma saat berada dalam air.

alhamdulillah, hari itu kami melewatinya dengan kegembiraan. G terlihat begitu senang. menjelang magrib, kami pulang. beruntung, di kafe mario itu ada tante herni (teman ayah yang tugas di gowa) mengabadikan keceriaan kami berenang. terima kasih tante herni… fotonya bagus.

menjelang magrib kami bergegas pulang. ternyata, hari itu G masih punya satu permintaan. ketemu sama ade’ ali di baruga.

“untuk daeng umpa, daeng fadli, ade’ ali. saya juga,” kata G mengambil beberapa kue dan memasukkan dalam saku celananya sesuai hitungan. awalnya bunda sempat protes. “pulang maki dulu. nanti malam baru ke sana,” kata bunda.

alasan bunda cukup masuk akal karena dia belum ganti baju, apalagi katanya dia agak pusing. okelah, nanti diliat perkembangan selanjutnya. ternyata, pas mau masuk pintu gerbang rumah di delta, G mengingatkan. “ayah, ke rumah ade’ ali.”

bunda ngalah deh. keceriaan G hari itu dilanjutkan di rumah baruga. alhamdulillah, hari itu saya bisa memberikan keceriaan pada keluarga kecilku. semoga, keceriaan ini terus berlanjut…..

impian, konsistensi, dan semangat

•Juni 16, 2010 • 2 Komentar

G anakku, melihat dari judulnya, tulisan ini agak berbeda dari beberapa catatan sebelumnya. sebagian besar bercerita tentang keseharian dan aktivitas apa saja yang terjadi, tapi kali ini mungkin agak membingungkan.

ayah hanya mencoba menarik benang merah dari kejadian saat semua orang tersenyum dengan suka cita melihat seorang perempuan datang dengan langkah cepat diiringi teriakan nyaring dari semua yang menyambutnya. “puang pipa datang,” pekikan suara bersahutan menyambutnya.

apakah G masih bisa mengingat pakaian puang pipa saat itu? masih lengkap dengan setelan jas kerjanya plus sepatu berhak cukup tinggi. yah, beberapa jam sebelum teriakan gembira itu, puang pipa menginformasikan kalau dia akan datang ke makassar.

“saya sudah check out dari hotel. sekarang menuju bandara,” begitulah kira-kira pesan puang pipa pada hari itu, minggu (6/6/2010), kepada ayah. saat itu, puang pipa sedang mengikuti acara di ternate. mungkin bagian dari kerja dia sebagai tenaga pengajar di salah satu universitas di kota itu.

yah, puang pipa memang sudah menjanjikan akan berupaya datang ke makassar kalau puang sobek sekeluarga; mama eva, abang rio, dan ade’ sheila datang dari banjarmasin, kalimantan selatan. tujuannya adalah ngumpul di makassar.

sebagaimana dalam tulisan sebelumnya, puang sobek sekeluarga tiba di makassar pada hari jumat (4/6/2010) dini hari. meski sempat khawatir rencana puang pipa bakal tertunda karena bertepatan di akhir pekan itu puang pipa juga ada acara di ternate. asa kami di makassar sempat tertahan.

beruntung, puang pipa tidak pernah mengubur impiannya dan tetap memegang teguh harapan untuk datang. alhamdulillah, tuhan memberikan jalan, hari minggu puang pipa bisa menyesuaikan waktu.

“sheila kan anaknya puang pipa,” kata mama eva. “pastinya tidak ada yang percaya, beda cashing sih,” begitu guyonan kami menimpali perkataan mama eva. yah, secara penampakan atau tampilan luar memang sangat berbeda. ade sheila berkulit putih dan puang pipa berkulit berwarna sebaliknya…. hehehe…  (maaf puang pipa, tapi saya tidak bilang ji warna kulit ta…hehehe)

ayah yakin, tidak hanya ade’ sheila yang menjadi penyemangat puang pipa, tapi semuanya. puang etta, mama puang, semua saudara, dan paling utama semua keponakannya.

minggu pagi, kami menikmati sajian gorengan, kue, teh dan kopi menemani obrolan dalam satu tema, menanti ketidak pastian kedatangan puang pipa karena saat itu masih dalam acara. puang pipa selalu mengatakan, “yah , saya usahakan. tunggu ma.” kalimat itulah yang terus membuat kami bersemangat dan harapan besar menunggu.

sekitar pukul 12 siang, ada kepastian puang pipa berangkat. jadwal jalan-jalan disesuaikan dengan rencana menjemput puang pipa di bandara. mohon maaf puang pipa, karena ayah G tidak bisa hadir dalam pertemuan sepanjang siang itu karena tidak bisa tinggalkan kantor.

alhasil, puang pipa disamput dengan begitu gempita, abang rio, G, dan pastinya ade’ sheila. semua senang. puang pipa memenuhi janjinya, meski waktu begitu kasip karena puang sobek, mama eva, abang rio, dan ade’ sheila keesokan harinya harus pulang ke banjarmasin.

kegembiraan G begitu sempurna mulai akhir pekan hingga awal pekan minggu awal bulan juni itu. puang pipa melengkapi kegembiraan abang rio dan G dengan membelikannya mainan. terima kasih puang pipa. robot-robot dan motor mainan. sekali lagi terima kasih.

semoga ini menjadi catatan berharga untuk G akan sosok puang pipa yang teguh pada asa dan melakoni hidup dengan semangat.

saya harus jujur mengatakan, puang pipa diberikan kelebihan energi oleh tuhan untuk terus melakoni hidup dengan semangat. hampir tidak ada yang tidak bisa dilakoninya. dia selalu dapat tugas seksi sibuk. banyak gambaran yang saya liat. beberapa kali bersama ayah puang pipa naik motor dari makassar ke bone. malam gelap dan hujan tidak menjadi penghalang baginya. semua dia tembus. kadang sakit menyapa, tapi saya tidak pernah mendengar kata penolakan saat ada permintaan dari kami, saudara yang selalu membebaninya…hehehe.

semua orang punya mimpi, harapan, impian, dan cita. untuk mencapainya dibutuhkan konsistensi pada apa yang kita inginkan. semangat menjadi pelecut dan daya dobrak pencapaian itu. dalam konteks pertemuan keluarga ini, ada yang paling penting dan utama membungkus itu semua. ada cinta dan kasih sayang.

terima kasih puang pipa, telah memberikan pelajaran berharga untuk G.

(tulisan ini didedikasikan untuk puang pipa)

pertemuan perdana G dengan ade’ sheila

•Juni 10, 2010 • 3 Komentar

pekan-pekan awal di bulan juni 2010 menjadi begitu berkesan bagi G. sepanjang hari-hari itu, G sangat gembira. jika pada hari-hari biasa di delta mas kami hanya bertiga, hari-hari itu ramai.

kegembiraan G berawal saat ada kabar dari puang sobek kalau dia mau ke makassar. awalnya ayah bepikir hanya puang sobek saja yang mau ke makassar, ternyata dia berangkat semua. satu keluarga. mama eva, abang rio, dan ade’ sheila.

“abang rio mau datang sama ade’ sheila,” kata kami kepada G memberitahukan informasi bahagia itu. kalau abang rio pastinya G tidak butuh penjelasan lagi karena G mengenalnya. yang harus kami berikan penjelasan tambahan adalah ade’ sheila.

mulailah bunda menjelaskan kepada G kalau ade’ sheila itu adalah ade’ abang rio. memori G nampaknya cukup bekerja untuk mengingat karena beberapa kali kami sudah mengenalkan ade’ sheila melalui foto-foto di blog dan dokumentasi foto di komputer. nama itu setidaknya G sudah mulai cukup familiar.

“saya berangkat mi ndi. satu jam lagi tiba,” begitu bunyi sms puang sobek sebelum bertolak menuju makassar.

mungkin ayah harus memberikan penjelasan tambahan. sekitar tahun 1999 puang sobek mulai menetap di kalimantan. awalnya di palangkaraya. beberapa tahun kemudian dia pindah di banjarmasin. di pulau borneo itupula puang sobek kemudian bertemu dengan mama eva yang kemudian menikah. abang rio lahir di banjarmasin. sekitar tahun 2006, puang sobek pulang ke tanah sulawesi untuk tinggal beberapa lama.

tahun 2008, puang sobek kembali ke banjarmasin. sejak tinggal di makassar itulah G sudah kenal dengan abang rio. sebelum pulang ke kalimantan puang sobek dan mama eva menyuruh ayah, bunda, dan G menempati rumahnya di delta mas. awalnya bunda, ayah, dan G tinggal di antang makkio baji.

minta maaf, karena jumat dini hari (4/6/2010) itu ayah tidak bisa menjemput puang sobek, mama eva, abang rio, dan ade’ seheila di bandara karena kesibukan di kantor.

ayah tidak tau apakah saat mereka tiba di delta mas, G terjaga. tapi pastinya, sepanjang hari jumat itu, G terlihat senang sekali. pagi hari itu bunda tidak di rumah karena harus mengikuti orientasi di sungguminasa, gowa.

hari itu menjadi momentum cukup bersejarah bagi G karena untuk pertama kalinya dia bertemu dengan ade’ sheila. dari 13 bersepupu, tinggal ade’ sheila yang belum pernah bertemu.

(hingga tulisan ini dibuat, nama-mana sepupu G masing-masing daeng nurul, daeng oca, daeng nisa, daeng didin, daeng udel, daeng umpa, daeng fadli, ade’ ali, daeng alif, abang mario, ade’ sheila, dan ade’ rizky. dua orang adik sepupunya G meninggal saat masih bayi)

saking senangnya bertemu dengan abang rio dan ade’ sheila, G mau saja diajak mama eva ke rumah puang nanna di baruga untuk ketemu sama daeng umpa, daeng fadli, ade’ ali, dan puang renal (suami puang nanna).

selain untuk pertama kalinya bertemu dengan ade’ sheila, G pergi tanpa salah satu dari kami, ayah dan bunda, baru kali itu saja. kecuali sama mama aji, itu adalah hal yang luar biasa saya pikir.

melihat itu, saya memastikan suasana hati yang begitu riang bertemu dengan saudara sepupu yang sekitar dua tahun tidak bertemu. apalagi saya liat G bisa saling mengerti dengan abang rio dan ade’ sheila. ditambah lagi dia mau pergi ketemu dengan daeng umpa, daeng fadli, dan ade ali.

yah, hari yang bahagia. G dan abang rio saling memainkan mainan yang sama. bergantian mereka saling mendorong mobil, kadang abang rio yang mendorong G dan kadang sebaliknya. sesekali G bermain dengan ade’ sheila yang lebih banyak tersenyum atau tertawa kecil melihat tingkah lucu kedua kakaknya.

saya berharap, keakraban G bersepupu bisa terus terjalin meski nantinya kami sudah tiada. tetaplah membangun kasih sayang anakku.

G jaga bunda

•Mei 17, 2010 • 2 Komentar

ayah ingin menulis cerita ini untuk kau kenang anakku.

“G jaga bunda,” kalimat yang selalu G ulang saat ayah akan berangkat kerja. pesan yang selalu ayah ucapkan dulunya, kini menjadi kalimat yang begitu fasih kamu lafalkan anakku.

yah, pesan yang berulang ayah sampaikan sejak engkau masih sosok bayi mungil anakku. setiap ayah akan berangkat atau meninggalkanmu, kalimat itu saya bisikkan di telingamu  saat ayah mencium kedua pipi G. “G jaga bunda yah,” kata saya dengan berbisik.

perjalanan waktu membawa G tumbuh. saat ayah menulis cerita ini, selasa (18/5/2010), G sudah berusia tiga tahun lebih. kalimat yang selalu saya ucapkan itu kini menjadi kalimat G.

awalnya seperti ini:

“ayah pergi dulu, jaga bunda yah,” kata saya

“iyah, hati-hati ayah,” jawab G diiringi lambaian tangannya dan cium jauhnya.

tapi, kini sudah berubah dan memang saya sengaja merubahnya:

“ayah pergi dulu,” kata saya

“hati-hati ayah,” jawab G

“G?” tanya saya

“jaga bunda,” kata G

terkadang G menambahkan dengan kalimat, “G jaga bunda sama ade’.” kalimat tambahan ini karena G mengira di perut bunda sudah ada adik. perut yang selalu G elus, kadang diajak bicara, dan bahkan dilantunkan lagu. beberapa waktu lalu kami sempat mewacanakan G mau dikasi adik. untuk sosialisasi dan memersiapkan mentalnya, G sengaja kami ajarkan seperti itu. ade’ dalam perut bunda.

alhamdulillah, anakku sudah mengerti dan paham. pastinya G ingin mengetahui kenapa ayah selalu mengucapkan kalimat itu saat akan pergi dan akhirnya G ucapkan sendiri?

anakku, masih seperti cerita sebelumnya bahwa kami menumpukan harapan besar kepadamu. harapan yang bisa G baca dalam tulisan sebelumnya. ada tanggung jawab yang coba saya tanamkan kepada G. karena kamu adalah laki-laki yang akan tumbuh perkasa dan engkau adalah anak pertama.

bukan berarti, jika insya Allah G punya adik, saudara G yang lain tidak demikian, tapi itu adalah “virus” yang harus ditularkan. G harus memberikan contoh dan panutan untuk adik-adiknya.

alasan lainnya adalah semua manusia berjalan atas takdirnya dan ayah tidak tau sejauh mana ayah bisa menemani G bersama bunda. di saat ayah harus kembali pada Sang Khaliq, G adalah pelanjut amanah ini. tanpa tawar menawar, semua harus kamu pikul anakku. ayah sadar, pilihan hidup yang ayah pilih kadang tidak selalu aman. sejak dari masa anak-anak,  remaja, hingga kini. meski dalam doa saya kepada tuhan adalah berikan  waktu yang bermakna untuk orang-orang yang saya sayangi dan berikan saya waktu menebar kasih untuk sesama.

yang tidak kalah pentingnya adalah G harus menyayangi bunda. saya melihat bagaimana perjuangan bunda. tidak salah jika dikatakan sorga ada di bawah telapak kaki ibu. ayah meyakini itu. cintai bunda, sayangi bunda,  hormati bunda, lindungi bunda, dan setulus apapun penghargaan tertinggi yang G miliki.

ayah tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi sudah takdir G pernah tinggal dalam rahim bunda selama kurang lebih sembilan bulan dan bunda harus melewati perjuangan antara hidup dan mati saat melahirkan G. cerita-cerita ini ada dalam bagian lain tulisan di blog ini.

nilai ini yang harus G teruskan kepada adik-adik G kelak. banyak cerita dalam blog ini bagaimana perjuangan bunda hingga G membaca tulisan ini. ayah sadar, bunda melakukan tanpa pamrih. itu pasti.

alhamdulillah, saya sangat bersyukur saat beberapa hari lalu, kamis (13/5/2010), ucapan terlontar dari bibir mungilmu anakku, “ayah, pulang. kasian bunda.”

saat itu, G ikut ke kantor ayah. sore harinya, bunda menelpon menanyakan keadaan G. dari balik telepon bunda sempat ngobrol dengan G, tapi yang saya tangkap dalam obrolan itu hanya soal cerita mainan baru yang dibelinya tadi siang.

“ayah, pulang yuk. kasian bunda sendirian,” kalimat G kembali terulang. begitu tulusnya anak ini. di mata indahnya saya melihat ketulusan dan pengharapan saya meluluskan permohonannya. “G mau pulang?” tanya saya. “iyah, kasian bunda tidak ada yang jaga. ade’ juga,” kata dia kembali mengulang dan melengkapi pernyataannya.

semoga saat G membaca tulisan ini, masih ada sedikit memori yang tersisa untuk selalu G kenang. jaga bunda