ayah akan selalu ada untukmu

dini hari di bandara internasional bandara sultan hasanuddin makassar…

“ini bapak nak. ini bapak,” kata seorang perempuan paruh baya mencoba menenangkan seorang bocah perempuan berusia sekitar tiga tahun dalam gendongan laki-laki. dia mencoba meyakinkan bocah itu pada laki-laki yang menggendongnya.  melihat perwakannya, bocah itu sekira seumur engkau anakku, G.

bocah kecil itu bukannya tenang, malah semakin meronta ingin melepaskan diri diiringi dengan tangisannya yang kian menggema. perempuan berkulit putih, terlihat cantik pada dini hari itu di antara minimnya makhluk manis saat itu, hanya tersenyum-senyum mencoba menenangkan bocah perempuan dalam gendongan laki-laki itu. perempuan muda itu terlihat begitu akrab dengan laki-laki yang menggendong bocah yang masih menangis.

menilik dari penampilan laki-laki itu, dia terlihat dari kalangan “bangsa” manusia moderen. pakaian layaknya penampilan anak muda jaman sekarang yang semakin terlihat “canggih” dengan kupluk di kepala. tas besar panjang di punggung yang di sambut beberapa lelaki berusia lebih muda saat keluar dari gate kedatangan, sepertinya berisi gitar. yah, penampilan laki-laki itu mengingatkan saya akan tontonan di layar kaca, bak musisi-musisi yang tampil tiap pagi menjelang siang di dua stasiun tivi swasta.

perempuan muda itu mencoba meraih tangan bocah perempuan itu yang juga mencoba menggapainya dengan mengulang kalimat yang sama dengan perempuan paruh baya itu, “ini bapak nak.” terlihat senyum terus mengembang dari bibirnya, terkadang diiringi tawa kecilnya, sangat kontras dengan kondisi bocah kecil yang terlihat malang itu.

ciuman dan pelukan lelaki berpenampilan bak musisi itu tak jua membuat si bocah tenang. akhirnya dia mengalah, pelukan dia longgarkan dan menyerahkan anak itu kepada perempuan cantik yang terus mengekorinya. seketika, anak itu tenang dalam pelukan erat perempuan cantik pada dini hari itu. tawa hangat berbarengan di antara mereka menyambut diamnya bocah itu mencoba menghalau dingin dini hari. sepilas, sempat terlihat rona kecewa di wajah laki-laki yang berpenampilan keren itu.

“belum kenal, masih kaget mungkin karena lama tidak ketemu,” kata perempuan paruh baya itu. rombongan itupun berlalu seiring saya tidak mengetahui lagi kelanjutan ceritanya.

pemandangan dini hari di bandara itu membuat saya terhenyak. apakah di jaman sekarang ini masih ada yang seperti itu, anak yang tidak mengenali bapaknya? seberapa lamanyakah bapak itu pergi meninggalkan anaknya? sesibuk apakah bapak itu sehingga tidak sempat memerkenalkan diri pada anaknya? apakah bapak itu tidak mengetahui kalau sekarang teknologi informasi dan komunikasi sudah sedemikian canggih? kalau kejadian itu terjadi pada tahun ’60-an, ’70-an, ’80-an, atau mungkin ’90-an (meski sudah riskan) saya bisa mahfum. kecanggihan teknologi masih sangat terbatas. teknologi komunikasi belum cukup menjawab kebutuhan interaksi manusia. tapi di jaman seperti ini, apalagi menilik penampilan keluarga kecil yang terlihat “canggih” itu, saya merasa aneh.

tapi sudahlah, itu bukan urusan saya untuk mencari tau apa penyebab dan alasannya.

anakku G, setidaknya ayah mendapat pelajaran berharga di pagi yang masih sangat dini ini. mungkinkah engkau nanti tidak mengenali ayah? terima kasih pengalaman dini hari ini karena setidaknya saya harus juga berwaspada.

insya Allah, ayah akan selalu ada dan hadir dikala G butuh. meski ayah sadar, jadwal mengejar harapan masih jauh dan masih sangat terbatas waktu bersama G. pada hari normal, selain libur sehari dalam sepekan, ayah masih bisa bercengkerama dengan G saat pagi.

kalau sebelum bunda punya aktivitas kerja, waktu G bersama ayah saat pagi masih sedikit lebih panjang dari sekarang karena kita masih bisa bersama hingga ayah berangkat kerja. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. sebelum pukul setengah delapan, kadang pukul delapan pagi kalau bunda telat ke kantor kita sudah harus mengakhiri pertemuan hari itu. itupun 15 menit kebersamaan di atas motot. hingga sekarang, G masih ikut sama bunda.

ayah baru kembali ke rumah dini hari, kala G sudah tertidur pulas. kadang G ayah ajak ke kantor, sebenarnya bertujuan agar ayah bisa lebih lama bersama G. ada beberapa cara yang ayah lakukan untuk mendekatkan emosi kita anakku, beberapa hal yang sedari G kecil selalu ayah kerjakan dan seolah bunda pun sudah terpola kalau itu adalah bagian ayah.

ayah selalu mengambil peran memandikan G, cebok G kalau buang air (besar dan kecil), sampai memakaikan baju. ayah berpikir, semoga aktivitas itu bisa membayar beberapa jam dalam sehari yang hilang, meski hanya satu atau dua jam saja. jika ayah di rumah, ayah juga selalu menyempatkan diri untuk lebih banyak melayanimu anakku. terima kasih G, sekarang ayah mahir cuci botol sampai bikin susu. saya pun sangat hafal bagaimana takaran dan selera makan G…heheh.terima kasih bunda, karena selalu memberikan waktu yang banyak untuk G dan ayah dikala sempat. terima kasih atas pengertiannya.

sekitar dua tahun lalu, bunda masih kadang bertanya, ayah sampai kapan ritme kerjanya seperti ini? pastilah saya hanya bisa menjawab dengan canda bahawa memang seperti inilah risiko pekerjaan saya. cemberut bunda yang membuatnya semakin manis, membuat ayah harus menjawab serius. pastinya kondisi ini tidak akan berjalan selamanya atau sepanjang hidup kami. ayah yakin akan ada proses yang terus berjalan menuju kesempurnaan.  Ayah selalu bilang kepada bunda, tidak masalah sekarang kita kerja keras yang pasti kita punya mimpi indah beberapa tahun mendatang. kami sepakat, ada cerita indah dalam keluarga ini yang harus kami raih nantinya.

pernah suatu ketika G terjaga saat ayah pulang dari kantor. jam dinding menujukkan sekitar pukul 02.00 wita dini hari. saat membuka pintu, karena memang ayah selalu membawa kunci cadangan agar tidak menganggu nyenyak tidur G dan bunda, saya sempat medengar suaramu anakku. “bunda, ayah.”

ayah pikir G hanya terjaga sejenak kemudian melanjutkan tidur. seperti biasanya, G dan bunda tidur di lantai dua. sementara ayah menyiapkan makan “sahur”  (disebut begitu karena kebiasaan makan dini hari, makanya badan tambah tambun..hehehe) G tiba-tiba muncul. G langsung memeluk ayah dengan eratnya. “maafkan ayah anakku, ayah telah membuatmu begitu rindu.”

anak usia tiga tahun, berjalan sendiri turun dari lantai dua menembus ruangan yang gelap menuju dapur di bagian belakang mencari sosok ayahnya. awalnya ayah berpikir ada bunda yang menemani, ternyata tidak. bunda bahkan tidak sadar kalau G bangun. hari itu ayah tidak pernah bersuara, hanya suara pintu pagar besi yang terbuka, deru motor, dan grendel pintu. itupun G kenali kalau yang datang adalah ayah.

ayah berdoa, semoga batin kita akan terus menyatu anakku, sehingga pengalaman dini hari ayah di bandara tidak akan pernah terjadi dalam keluarga kita. amin

 

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada Desember 6, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: