kasihan pak tua ayah …

anakku…

untuk kesekian kalinya engkau membuat ayah bersyukur kepada Allah akan hadirmu yang dititipkan kepada kami. diusiamu yang masih sangat muda, hari itu G berusia 3 tahun 10 bulan, atau tepatnya hari raya idul adha 1431 hijriah yang bertepatan pada tanggal 17 november 2010, rasa syukur ayah dan bunda panjatkan. terima kasih Allah, engkau telah memercayakan kepada kami anak manusia yang memiliki cintah, kasih, dan sayang.

anakku G …

kisah ini berawal saat kita, bunda, ayah, dan G menunaikan salah idul adha di masjid al markaz al islami di makassar. saat ingin keluar dari tempat parkir, tiba-tiba G menepuk pundak ayah dengan beberapa kali tepukan diiringi kalimat merdunya,  “kasihan pak tua ayah.” G menunjuk seorang pak tua di balik kaca mobil. yah, ayah tidak memerhatikan seorang bapak tua dengan kaleng berisi recehan di samping mobil yang meminta sedikit belas kasih dari kami.

G anakku …

alhamdulillah yah Allah, Engkau memberikan kepada kami anak yang memiliki hati yang welas asih. saya yakin ini adalah rahasia tuhan yang ditanamkan pada diri setiap ciptaannya. termasuk ke G. karena secara khusus, kami belum pernah mengajarkan kepada G untuk memberikan uang kepada pengemis seperti objek bapak tua itu. yang selalu rutin kami sampaikan adalah G harus berbagi kepada siapa saja, seperti berbagai kepada saudara sepupunya, teman, atau lainnya. ada kebiasaan G yang masihdilakukan sampai sekarang, karena kami selalu mengajarkan dia untuk mengisi celengan-celengan sumbangan. dan itu masih sering dilakukan. dimana saja G melihat celengan sumbangan, pasti meminta uang untuk dia masukkan, di mal, tempat umum, dan masjid. seperti setiap salah di masjid, uang selalu kami selipkan di kantong G agar dia masukkan dalam celengan masjid. termasuk hari itu saat salat di almarkaz.

Anakku sayang …

hari itu, G memberikan koin 500 perak kepada pengemis bapak tua itu. matanya terus melihat bapak tua itu yang dengan pelan mulai berjalan pergi. G bahkan berdiri di jok mobil dengan arah berbalik terus memerhatikan bapak tua itu hingga menghilang dari pandangan karena kami harus berbelok jalan. “kasian yah ayah,” kata G mengakhiri pandangannya.

anakku G …

sepilas ada rasa puas dalam hati mengingat alasan bunda dan ayah dalam memilih namamu (bisa dilihat dalam halaman yang ditulis sebelumnya berjudul nama saya G). niat nama galang yang diambil dari nama sebuah pulau di kepulauan riau atau sekitar batam memang diniatkan bahwa G akan memiliki sifat atau rasa kemanusiaan yang tinggi dan selalu peduli dengan orang lain. mungkin sebaiknya ayah kutip tulisan dalam bagian itu:

“Galang diharapkan menjadi doa. Pulau Galang pada akhir tahun 1970-an menjadi pulau harapan dari pengungsi dari negara Vietnam. Jika dibuka dalam buku sejarah, kita diingatkan istilah nama manusia perahu. Yang dimaksud dengan manusia perahu adalah orang-orang Vietnam yang mengungsi dari negaranya dengan menggunakan perahu.

Bisa dibayangkan bila manusia yang sudah berbulan-bulan terombang ambing di lautan tanpa arah dan harapan yang jelas, kemudian menemukan satu pulau dimana mereka bisa berlabuh. Mengakhiri petualangan antara hidup dan mati mereka. Pulau Galang adalah tambatan harapan.

Ada nilai kemanusiaan. Sehingga doa kedua orangtua saya, Galang akan menjadi manusia yang punya rasa kemanusiaan dan senantiasa bisa mengayomi orang lain. Minimal sebagai anak pertama, senantiasa menjadi harapan saudaranya sebagai tambatan atau sandaran dikala kesusahan. Galang diharapkan menjadi manusia yang welas asih kepada sesamanya.”

G anakku …

semoga Allah tetap melekatkan sifat itu pada dirimu dan engkau bisa memeliharanya dengan baik …

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada November 29, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: