G jaga bunda

ayah ingin menulis cerita ini untuk kau kenang anakku.

“G jaga bunda,” kalimat yang selalu G ulang saat ayah akan berangkat kerja. pesan yang selalu ayah ucapkan dulunya, kini menjadi kalimat yang begitu fasih kamu lafalkan anakku.

yah, pesan yang berulang ayah sampaikan sejak engkau masih sosok bayi mungil anakku. setiap ayah akan berangkat atau meninggalkanmu, kalimat itu saya bisikkan di telingamu  saat ayah mencium kedua pipi G. “G jaga bunda yah,” kata saya dengan berbisik.

perjalanan waktu membawa G tumbuh. saat ayah menulis cerita ini, selasa (18/5/2010), G sudah berusia tiga tahun lebih. kalimat yang selalu saya ucapkan itu kini menjadi kalimat G.

awalnya seperti ini:

“ayah pergi dulu, jaga bunda yah,” kata saya

“iyah, hati-hati ayah,” jawab G diiringi lambaian tangannya dan cium jauhnya.

tapi, kini sudah berubah dan memang saya sengaja merubahnya:

“ayah pergi dulu,” kata saya

“hati-hati ayah,” jawab G

“G?” tanya saya

“jaga bunda,” kata G

terkadang G menambahkan dengan kalimat, “G jaga bunda sama ade’.” kalimat tambahan ini karena G mengira di perut bunda sudah ada adik. perut yang selalu G elus, kadang diajak bicara, dan bahkan dilantunkan lagu. beberapa waktu lalu kami sempat mewacanakan G mau dikasi adik. untuk sosialisasi dan memersiapkan mentalnya, G sengaja kami ajarkan seperti itu. ade’ dalam perut bunda.

alhamdulillah, anakku sudah mengerti dan paham. pastinya G ingin mengetahui kenapa ayah selalu mengucapkan kalimat itu saat akan pergi dan akhirnya G ucapkan sendiri?

anakku, masih seperti cerita sebelumnya bahwa kami menumpukan harapan besar kepadamu. harapan yang bisa G baca dalam tulisan sebelumnya. ada tanggung jawab yang coba saya tanamkan kepada G. karena kamu adalah laki-laki yang akan tumbuh perkasa dan engkau adalah anak pertama.

bukan berarti, jika insya Allah G punya adik, saudara G yang lain tidak demikian, tapi itu adalah “virus” yang harus ditularkan. G harus memberikan contoh dan panutan untuk adik-adiknya.

alasan lainnya adalah semua manusia berjalan atas takdirnya dan ayah tidak tau sejauh mana ayah bisa menemani G bersama bunda. di saat ayah harus kembali pada Sang Khaliq, G adalah pelanjut amanah ini. tanpa tawar menawar, semua harus kamu pikul anakku. ayah sadar, pilihan hidup yang ayah pilih kadang tidak selalu aman. sejak dari masa anak-anak,  remaja, hingga kini. meski dalam doa saya kepada tuhan adalah berikan  waktu yang bermakna untuk orang-orang yang saya sayangi dan berikan saya waktu menebar kasih untuk sesama.

yang tidak kalah pentingnya adalah G harus menyayangi bunda. saya melihat bagaimana perjuangan bunda. tidak salah jika dikatakan sorga ada di bawah telapak kaki ibu. ayah meyakini itu. cintai bunda, sayangi bunda,  hormati bunda, lindungi bunda, dan setulus apapun penghargaan tertinggi yang G miliki.

ayah tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi sudah takdir G pernah tinggal dalam rahim bunda selama kurang lebih sembilan bulan dan bunda harus melewati perjuangan antara hidup dan mati saat melahirkan G. cerita-cerita ini ada dalam bagian lain tulisan di blog ini.

nilai ini yang harus G teruskan kepada adik-adik G kelak. banyak cerita dalam blog ini bagaimana perjuangan bunda hingga G membaca tulisan ini. ayah sadar, bunda melakukan tanpa pamrih. itu pasti.

alhamdulillah, saya sangat bersyukur saat beberapa hari lalu, kamis (13/5/2010), ucapan terlontar dari bibir mungilmu anakku, “ayah, pulang. kasian bunda.”

saat itu, G ikut ke kantor ayah. sore harinya, bunda menelpon menanyakan keadaan G. dari balik telepon bunda sempat ngobrol dengan G, tapi yang saya tangkap dalam obrolan itu hanya soal cerita mainan baru yang dibelinya tadi siang.

“ayah, pulang yuk. kasian bunda sendirian,” kalimat G kembali terulang. begitu tulusnya anak ini. di mata indahnya saya melihat ketulusan dan pengharapan saya meluluskan permohonannya. “G mau pulang?” tanya saya. “iyah, kasian bunda tidak ada yang jaga. ade’ juga,” kata dia kembali mengulang dan melengkapi pernyataannya.

semoga saat G membaca tulisan ini, masih ada sedikit memori yang tersisa untuk selalu G kenang. jaga bunda

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada Mei 17, 2010.

2 Tanggapan to “G jaga bunda”

  1. insya allah selalu ada ruang dan waktu untuk G dari ayah. Puang pipa G akan tumbuh menjadi org yang penuh tanggung jawab. puang pipa sedih bacanya. semua sayang G, ayah dan bunda….

  2. insya Allah ndi, semoga sesuai harapan. tapi, kadang rencana kadang tidak semulus yang kita inginkan. semoga apa semua yang kita inginkan untuk generasi selanjutnya lebih baik. saya juga tidak mengerti ndi, kenapa beberapa hari ini tulisan dalam blog agak melo…hehehe. jangan mi sedih. semngat puang pipa. kita berjuang dengan semangat, insya Allah akan dinikmati generasui kita selanjutntya. kita bersama bisa semakin kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: