surat untuk G

salam ayah sampaikan kepadamu anakku, semoga kelak engkau membaca surat ini sudah mengerti apa arti salam yang khusus ayah tujukan padamu anakku.

G
hari ini, 3 mei 2010, ada hasrat besar dalam hati ayah untuk menulis surat padamu. anakku, mungkin engkau berkata, kenapa ayah tidak bilang saja langsung? yah, ayah bisa menyampaikannya dalam kata, tapi ayah ragu, di usiamu sekarang apakah memorimu cukup kuat merekam sejumlah kata-kata ini? bahkan mungkin terasa asing dalam kosa katamu anakku.

G, anakku.
waktu berjalan begitu indah dalam hari-hari ayah, dan pastinya bunda juga, sejak kehadiranmu. tangismu menguatkan semangatku dari kegalauan. ada senyum kepuasan tersungging di raut wajah bunda sembari menahan sakit. semua tersenyum, semua tertawa, semua larut dalam suka menyambut kehadiranmu anakku.

G
asi mungkin kurang mengalir dalam darahmu karena kondisi bunda yang tidak memungkinkan. tapi ayah yakin, engaku tidak kekurangan gizi anakku. madu engkau santap dengan lahap sebelum berganti produk pabrik yang terpaksa ayah belikan di toko terdekat dari rumah sakit. sepanjang itupula ayah selalu harus menjadikan angka di kotak susu sebagai patokan kepantasan menu makanan pokokmu anakku.

G
anakku, takdir keberuntungan engkau terlahir dalam kondisi ayah dan bunda telah bergolak. engkau terlahir di saat pegangan duniawi kami tidaklah kokoh. engkau terlahir dalam spektrum putaran roda kami berada di dasar. ayah merasa beruntung engkau terlahir pada momentum itu karena engkaulah sebagai pelita, penuntun, dan penyemangat langkah untuk membuat lompatan besar. engkau beruntung dalam takdirmu anakku karena saat itu ayah dan bunda melihat begitu kuatnya ikatan persaudaraan dan rejeki yang terus mengalir padamu. ayah mencoba merekam itu semua meski ayah menyimpannya hanya dalam bongkahan-bongkahan besar dalam hati.

anakku G
tak pantas rasanya ayah menakar keberuntungan yang diberikan tuhan kepadamu anakku. kemuliaan yang juga terpancar pada ayah dan bunda melakoni hidup yang lebih berarti. binar matamu selalu membuat ayah bersemangat hingga hari ini anakku. silih berganti keberuntunganmu datang menyapa. semua seakan berjalan begitu alami tanpa turbulensi yang berarti. nasib seolah membawa daun hijau itu menyusuri sungai penuh batu dengan tenang. pencapaian ayah hari ini tentunya bukan akhir, begitu juga dengan bunda, dan tentunya saya yakin untukmu anakku.

G
tiga tahun, tiga bulan, delapan hari usiamu sekarang hingga ayah menulis surat ini, seakan berjalan begitu cepat. masih terekam jelas bagaimana bunda menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah tertatih menahan sakit, kerewelanmu sebelum usia 40 hari, aqiqah, tumbuh gigi, merangkak, duduk, berjalan, hingga saya menyaksikanmu berlari lincah hari ini.

G
terlahir dari rahim bunda sudah menjadi garis tanganmu anakku. terlahir dengan darah ayah yang mengalir dalam detak jantungmu sudah menjadi takdir yang harus engkau jalani. tak perlu dipertanyakan kepada tuhan kenapa seperti itu. perjalanan waktu telah membawa ayah pada penyadaran yang teramat dalam, engkau adalah anugerah.

G anakku

ayah sadar, ayah bukanlah seorang ayah yang sempurna. begitupun bunda, orang yang harus kamu muliakan seteleh Allah dan Muhammad, juga bukanlah ibu yang tanpa cacat. mengayomimu menjalani hidup terkadang tak berjalan seideal dalam teori di buku dan majalah mendidik anak dengan segala pakarnya. tapi, inilah cara kami anakku. insya Allah, kami iklas melakukannya untuk sebuah tujuan, toh ayah tak menyangkal kalau ada yang keliru.

G
terkadang engkau harus menangis meraung karena terjatuh akibat kelalaian kami menjagamu, terkadang ayah harus membuat engkau menangis saat harus memaksamu membersihkan gigi atau pakai sampo dikala mandi, terkadang bunda harus bermuka masam saat engkau suka tidur di pinggir kasur. tapi kami sadar, lebih banyak kegembiraan yang kami rasakan saat engkau memandikan atau membasuh wajah kami dengan kencing yang muncrat dari antena kecilmu dalam lelap. maafkan kami anakku, beberapa kali kita harus berbeda dan saling tarik menarik bandul yang terkadang ayah sulit membedakan apakah ini keiklasan atau ego seorang ayah pada anaknya? hanya saja ayah lebih senang dengan protes polosmu pada sesuatu yang engkau anggap baik dan benar.

G
engkau telah memberi kami kebanggaan anakku. teruslah bercerita anakku, ayah dan bunda selalu berdoa akan terus bersamamu nikmati cerianya masa depan yang terbentang di hadapanmu

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada Mei 3, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: