hore… puang pipa bawa nasu poppo

serunya malleppe di bone

kisah gembira yang diceritakan ternyata tidak semua membuat gembira pendengarnya. itulah yang dirasakan ayah saat puang pipa mencerikan serunya pengalaman berlebaran di bone.

“ah… andainya saya ada di situ,” kalimat itu terus hadir dalam hati ayah saat puang pipa bercerita.  ayah tersenyum, tertawa, dan kadang menanggapinya dengan antusias, tapi sayang kalimat sesal itu selalu saja hadir.(cerita kegagalan berlebaran di bone ada dalam bagian lain blog ini)

usai berlebaran idul adha 1430 hijriah-2009 masehi di bone, puang pipa ke makassar. kedatangan puang pipa sudah dinanti-nanti sejak hari sabtu. Tapi, sepertinya ada perubahan jadwal sehingga puang pipa baru tiba di makassar pada hari minggu tanggal 29 november 2009 atau tepatnya senin dini hari.

pulang dari kantor sekitar pukul 02.00 wita, ayah langsung menuju dapur. ayah tidak membangunkan bunda untuk menyiapkan menu makanan dini itu karena kondisi bunda kurang sehat. lagi demam.

malam itupun selera makan ayah kurang bagus. sebutir mangga harum manis di dalam kulkas menjadi teman ayah menikmati tontonan berita terakhir di televisi dini hari itu.

puang pipa sempat terbangun saat ayah “mengacak-acak” dapur. “ada nasu poppo,” kata puang pipa menunjukkan menu yang dibawanya dari bone. menu andalan buatan mama puang di bone. ibaratnya, menu lain boleh tidak ada, tapi tiap lebaran, nasu poppo harus tersaji di atas meja.

sayang selera makan ayah kurang bagus. karena biasanya ayah makan ditemani bunda yang duduk manis di ujung meja, dini hari ini tidak ada. tradisi yang dari awal kami bangun, saat itu tidak ada seakan ada yang kurang.

nasu poppo buatan mama puang barulah saya nikmati pagi harinya lengkap dengan tumbu’ lotong (makanan dari beras ketan hitam yang dibungkus daun pisang). nyamanna…

berempat, bunda, G, puang pipa, dan ayah, kami menikmati menu spesial itu. serasa masih lebaran. puang pipa kemudian menceritakan suasana lebaran di bone, di jalan sungai limboto.

“ramai sekali. banyak rombongan yang datang,” kata puang pipa. puang pipa melanjutkan cerita serunya berlebaran bersama puang etta, mama puang, saudara, dan ponakan di bone.

cerita puang pipa, saudara yang ada di bone berkumpul di rumah lotong puang etta di jalan s limboto. puang ammi, puang ani, dan puang ati, lengkap dengan pasukan ponakan. rombongan pertama datang dari maros. sepupu ayah, puang iwan (anaknya andi lahamuddin petta lolo-petta inga’) datang bersama teman-temanya dari maros yang kemudian menginap di rumah.

setelah keramaian itu, datang rombongan puang petta wawo, adik puang etta beserta keluarga besarnya. cerita ini termasuk yang membuat ayah sedih. momen lebaran menjadi ajang pertemuan, silaturrahmi keluarga yang sudah lama tak bertemu.

selama ini, petta wawo lebih banyak tinggal di kobaena, sulawesi tenggara. anak-anaknya, banyakan di luar daerah. puang pisa di jakarta, puang fira di makassar, puang nenneng di kalimantan, puang kifli di makassar, dan lainnya. masih ada puang yang sekarang menetap di kessi pute, sulawesi tenggara, dan si bungsu yang juga di makassar.

pertemuan ini tentunya sangat berharga, kapan lagi. apalagi memang sudah lama sekali ayah tidak pernah bertemu dengan mereka semunya. kecuali puang lela dan keluarganya, ternyata puang petta wawo dan keluarga berlebaran di bone, tepatnya di pattiro bajo.

seru sekali puang pipa bercerita sambil menikmati menu nasu poppo yang terhidang di atas meja. sesekali G nyeletuk menyambung omongan jika ada nama disebut yang dia kenal.

lebih seru lagi, puang wawo menginap. wah, mantap sekali tuh. rencana malamnya jalan-jalan di bone, kata puang pipa, tidak jadi. kebiasaan puang etta duduk di teras bersama puang petta wawo membuat rencana itu gagal.

puang etta terlihat senang sekali bercerita dengan saudaranya membuat anak-anaknya pada nimbrung. bergabung, jadilah obrolan semakin seru. ayah tidak bisa membayangkan bagaimana indahnya ngobrol di teras rumah bersama keluarga. kebiasaan itu seakan menjadi tradisi dalam keluarga apalagi saat acara ngumpul.

“andai saya ada sempat pualang ke bone, serunya di’? pernyataan ayah itu disambung puang pipa kalau ternyata puang murni juga kecewa karena dia tidak diinformasikan kalau petta wawo menginap di jalan titang. puang murni bilang, “kan bisa gabung cerita-cerita.”

lama sekali tidak pernah ketemu langsung dengan puang pisa, puang fira, puang nenneng, puang kifli, dan lainnya. utamanya petta wawo yang setiap bertemu selalu saja punya kisah-kisah menrik yang memotivasi kami. sekali bertemu, banyak sekali pelajaran yang bisa diperoleh dari setiap obrolan yang beliau gulirkan.

petta wawo pulang, datang daeng nanna dari sidrap bersama rombongan, puang renal, daeng umpa, daeng fadli, dan ade’ ali. ramai sekali. tak kalah serunya cerita saat semua saudara berkumpul di jalam manurungge, kediaman puang murni.

persiapan puang murni dituntaskan dengan kedatangan semua pasukan. “kita bikin rawon,” kata puang murni menyusun menu keesokan harinya. serbuan kedua datang, “kita pergi hanya pakai daster-daster saja. pokoknya seru sekali.”

pastinya mama puang dan puang etta senang sekali dengan suasana itu. meski mungkin masih ada keinginan  yang terpendam, karena beberapa anaknya tak sempat mudik. seperti ayah bersama bunda dan G, puang sobek bersama mama eva, abang rio, dan ade’ sheila, puang ile bersama puang yus dan ade’ rizky.

pastinya ayah senang sekali mendengar cerita itu. alhamdulillah, senang sekali saya liat ayah saat puang nanna bersama puang renal dan ade’ ali datang pada keesokan harinya, selasa, 1 desember 2009. ayah langsung mengambil kamera dan mengabadikan momen itu.

hanya sayang, kalimat sesal itu semakin kuat terngiang karena ternyata puang nanna dan puang pipa seakan mencocokkan cerita saat lebaran di bone. ah, memang sudah takdir tak bisa berlebaran bersama dan tidak menjadi salah satu pemain dalam kisah bahagia itu. terlepas dari rasa sesal yang membuncah dalam hati, secara utuh, saya senang mendengar kisah itu. alhamdulillah semua berbahagia. semoga momen bahagia itu bisa kembali terulang dan G hadir sebagai salah satu pelaku di dalamnya.

nasu poppo buatan mama puang enak sekali. “ternyata isinya tinggal sepotong? tapi, kalau nasu poppo’, biar likkunya enak sekali ji juga,” kata saya saat menikmati nasu poppo tadi pagi, rabu (2/12/2009). bunda hanya senyum simpul saya melihat ketidaksadaran saya yang terus menikmati menu itu.

mungkin itu menu nasu poppo terakhir yang saya nikmati di momen lebaran idul adha kali ini.

terima kasih kiriman nasu poppo’-nya mama puang. enak sekali.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada Desember 2, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: