lebaran, idul adha 1430 h – 2009

massiara

“G ayo bangun nak, kan mau salat id di baruga. mau lebaran G,” rayu bunda membangunkan G. beberapa saat mata G terbuka, tapi nanpaknya di bermalas-malasan. jurus rayuan maut terus dilancarkan bunda, “kita nanti salat di dekat baruga terus ke rumah puang nanna, main sama daeng umpa, daeng fadli, ketemu sama ade’ kecil. ayo G.”

ternyata, jurus bunda tidak cukup ampuh membuat G berdiri. dia terus saja berguling-guling. Bunda memutuskan mandi duluan. setelah mandi, dia kembali merayu G bangun.

akhirnya bunda menyerah. G dibiarkan saja tertidur. rencana salat id di baruga gagal total. pagi itu, G baru bangun pukul 8 pagi. usai sarapan, memakai baju barunya, lengkap dengan jacket dan helm warisan abang rio, kami berangkat ke baruga, rumah daeng umpa.

sepi, tak ada mobilnya. beberapa kali kami ketuk, tidak ada jawaban. “mungkin puang nanna ke rumah keluarga.” G terlihat kecewa. Kami langsung ke rumah puang sera di antang. lama juga tidak ke sana.

seperti biasanya, puang sera menyambut dnegan hangat. “eh, saya kira perempuan,” kata puang sera saat melihat G. hehehe… ternyata G dikira anak perempuan sama puang sera.

sebenarnya, tak hanya puang sera, beberapa orang terkadang tertipu kalau hanya melihat wajah G yang menyangka dia anak perempuan.

di rumah puang sera ada puang diba (anak puang sera) dan petta jalli. beberapa kali puang sera memuji G yang sangat penurut dan sabar. “sabbara’pa,” kata puang sera.

pastinya kami tertawa. “aih, depa puang,” kata bunda menimpali. kami disuguhi nasu poppo dan kari ayam lengkap dengan ketupatnya. G terlihat senang sekali dnegan menu itu.

ada pengalaman yang membuat saya heran, “ayah, liat ikan di depan.” wah, dari mana G tau kalau di depan ada kolam ikan? padahal, waktu kita datang tidak lewat depan, tapi lewat pintu samping. kami bertiga bebrapa saat bingung. “mungkin dia ingat dulu waktu ke sini,” kata bunda menjawab rasa heran saya.

beberapa saat di sana, kami melanjutkan kunjungan massiara ke rumah puang yaya di racing. ketemu sama daeng aan, daeng ari, daeng umil, dan daeng khusnul, G saya lihat senang sekali. kegembiraan G semakin sempurna saat puang yaya datang dan diajak memetik mangga.

setelah puas bercerita dan meleps rindu, kami pulang. apalagi, haru sudah siang. ayah harus masuk kantor. kami sempat singgah di rumah puang anci di perumahan haji kalla, tapi beberapa kali kami ketuk pintu pagar, tidak ada jawaban. kami putuskan langsung pulang.

di hari lebaran itu, meski G tidak pualng ke bone, saya liat G cukup senang dengan acara massiara hari itu.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada November 30, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: