G ikut demonstrasi

G ikut demontrasi mengecam mabes polri atas pemanggilan pemimpin koran seputar indonesia dan kompas … tapi itu cuma “kopian” dari ayah, G sih cuma ikut-ikut main saja….hehehe.

sebenarnya yang harus menjelaskan kenapa G diikut dalam aksi adalah ayah. pastinya, sabtu (21/11/2009), G belum mengerti apa-apa mengenai aksi itu. yang ada dalam pikiran G hanyalah ikut main, liat orang ramai, dan bergembira

oke-lah, ayah yang harus menjelaskan.

sebenarnya, bukan kali ini saja G ikut dalam kegiatan yang melibatkan wartawan. G beberapa kali juga diajak ayah ke pengadilan negeri makassar. kala itu, sedang berlangsung sidang pencemaran nama baik mantan kapolda sulselbar irjen pol sisno adiwinoto oleh  upi asmaradhana, mantan wartawan metro tv.

anak sekecil itu kok ikut-ikut, apakah dia paham akan arti sebuah persidangan dan demonstrasi? sederhana mungkin saat G diajak ayah, dibonceng motor menerabas panasnya makassar menuju ruang persidangan atau ikut berpanas-panas “menikmati” terik matahari melihat orang yang berorasi dan bercengkerama dengan debu jalanan dari kendaraan yang lalulalang.

hanya saja, ada niat dan cita-cita dari seorang ayah untuk putranya. G harus mengenal dunia wartawan ini, meski belum ada pemikiran untuk mengarahkan G menjadi seperti ayah, seorang kuli tinta. G harus mengenal dunia yang digeluti ayahnya, dunia yang membawa G seperti sekarang ini.

kenapa G harus mengenal secara dekat pekerjaan ayahnya sedari dini? saya berharap, dengan mengenalnya, G akan bangga dengan profesi ini. pekerjaan yang dibanggakan oleh ayahnya.

banyak cerita miring mengenai profesi seorang jurnalis. ayah tidak menampik tudingan itu karena memang ada, tapi itupun tidak sepenuhnya benar. selama pengalaman ayah, jauh lebih banyak wartawan yang menjalankan profesinya dengan terhormat dibanding yang menggadaikannya.

ayah selalu berusaha mengajak G untuk ikut dalam kegiatan yang mungkin sifatnya kasus yang melibatkan wartawan. tentu ada alasannya. ayah seakan ingin menunjukkan, inilah risiko dari pekerjaan ayah nak. demi sebuah idealisme yang ada dalam hati, meja pengadilan, yang mungkin akan berakhir di balik jeruji, tak menjadi penghalang. atas kebenaran yang kami yakini.

aksi turun ke jalan untuk sebuah solidaritas dan melawan tindakan kesewenang wenangan bukanlah hal terlalu luar biasa. pekerjaan ini malah kadang membutuhkan taruhan nyawa. tanggung jawab pekerjaan ini tidaklah kecil dan ringan. itu yang ingin ayah tanamkan kepada G agar dia menjadi bangga dengan pekerjaan ayahnya.

banyak cerita heroik mengenai seorang jurnalis yang saya pikir ayah tidak perlu ceritakan di sini karena saya yakin G akan memahaminya kelak. saya tidak ingin menggurui G, ayah hanya ingin memperlihatkan saja. silahkan kepada G yang memberikan penilaian.

bagaimana kehidupan seorang jurnalis, pastinya G sudah mengalaminya. waktu bersama ayah tentunya harus terpangkas dengan rutinitas kerja yang seakan tiada akhir. tapi semua ada hikmahnya untuk G. dalam beberapa tulisan di blog ini sudah saya sampaikan.

yang saya pahami, ada nilai yang sangat mulia dalam pekerjaan ini. ada kejujuran, amanah, dan kepercayaan. wartawan dituntut untuk jujur menyampaikan apa yang terjadi kepada masyarakat.

kebohongan pastinya sangat jauh dari pekerjaan ini. berbohong kepada satu orang sudah pasti berdosa, bisa dibayangkan jika kebohongan itu disampaikan kepada ribuan pembaca, pendengar, atau masyarakat yang mengonsumsi berita karya dari seorang jurnalis. bagaimana besar dosanya yah…heheheh. kebenaran menjadi nilai mutlak dalam pekerjaan ini.

ada amanah di sana. seseorang narasumber memercayakan ucapannya atau apa saja kepada seorang jurnalis untuk disampaikan kepada publik. ada amanah yang tidak boleh dikurangi dan dilebihkan.amanah itu harus dipegang tegung. bagaimana seorang jurnalis harus bertanggung jawab dan memberikan perlindungan kepada narasumbernya yang enggan disebutkan identitas lengkapnya. tanggung jawab ada kapada seorang wartawan. amanah itu harus dijaga sampai kapanpun.

kepercayaan pastinya. sederhanya, orang membaca koran, menonton televisi, atau mendengar radio, pun melihat informasi dari media online tentunya mereka akan memercayai terhadap apa yang disajikan oleh wartawan atau dalam bahasa lainnya industri media. masyarakat memberikan kepercayaan kepada media (yang di dalamnya ada wartawan) terhadap informasi yang ada.selain itu, kalau kita tidak dipercaya pastinya media mereka tidak akan laku. orang akan merasa rugi untuk membelinya. diberikan secara gratispun orang akan merasa rugi membacanya. meski seorang nara sumber tidak mengatakannya, tapi dalam hatinya mengatakan, saya mau kau wawancarai karena saya percaya kepada kamu. kami adalah orang yang dipercaya.

ayah berfikir bahwa dibalik pekerjaan sebagai kuli ini, ada nilai-nilai luhur di dalamnya. meski kadarnya berbeda karena tidak ada manusia biasa yang menyamainya, dengan nilai-nilai yang pernah disematkan kepada manusia-manusia mulia di muka bumi ini. sekali lagi, meski pastinya itu tidak sama, hanya saja “kami” ingin mendekati nilai-nilai luhur itu.

ada niat dalam hati untuk generasiku memahami nilai itu. pekerjaan yang tidak hanya dipandang dari sisi pragmatisnya saja. selain itu, ada sisi dunia lain yang harus sedari dini saya perkenalkan kepada anak saya. saya ingin mengatakan, G inilah dunia yang luas itu. ada banyak ragam di dalamnya. dunia tidak hanya sebatas G berada di dalam kamar, nonton tivi, pekarangan rumah, dan tetangga di kompleks. tak sebatas ayah, bunda, mama puang, puang etta, mama aji, babba, amure, sappusiseng, dan lainnya.

dunia masih luas untuk G jelajahi.

banyak hal lain yang akan saya sampaikan kepada G saat mengajaknya bersentuhan dengan dunia luar. pengenalan mengenai pekerjaan yang sedang digeluti ayahnya mungkin hanya satu bagian kecil dari mimpi indah menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak kami.

perjalanan G, insya Allah, masih panjang untuk memaknai hidup dalam pencarian dan pencapaiannya sendiri. saya yakin, kami-ayah dan bunda- hanya punya waktu sedikit untuk mewarnainya.

seperti dalam fotonya, teruslah acungkan tinjumu menantang langit menyuarakan kebenaran anakku.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada November 21, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: