mobil, bantal, dan selimut bau pesing

apa barang wajib ada jika G mau tidur?

jawabannya adalah mobil-mobilan, bantal kasar tak bersampul, serta selimut besar bau pesing. selain botol susu yang sudah pasti harus ada, tiga barang itu juga tidak boleh ketinggalan.

soal mainan, ayah tidak tau dari mana asal muasalnya, mainan yang disukainya hanya mobil-mobilan. banyak mainan lain, tapi yang paling diminatinya hanya mobil-mobilan. sebelum tidur dia harus memgang minan itu bersama dengan botol susu yang bertengger di mulutnya.

untuk mainan mobilnya, seakan diberikan nama. selain nama yang umum, seperti mobil polisi, ambulance, dan truk, dia memberikan nama mobilnya dengan apa yang dilihatnya.  seperti mobil mama aji.

apa itu mobil mama aji? ternyata mobil yang dimaksud adalah mobil-mobilan besi warisan dari abang rio yang modelnya seperti mobil panther. tapi kok dikasi nama sesuai dengan nama neneknya?

nah, mobil panter itulah yang  selalu ditumpangi mama aji kalau dia datang ke makassar atau pulang ke bone. itulah kesan yang dalam memori G. kalau kita jalan dan melihat mobil seperti itu, dia akan berteriak, “mobil mama aji, mobil mama aji.”

ada lagi mobil yang dia kasi nama mobil yeyei. saya tidak tau percis dari mana penamaan itu, tapi ternyata maksudnya adalah mobil pick up.

awal bulan november 2009 ini, G menambah koleksi mobilnya dengan mobil-mobil polisi. sebelum tidur, mobil-mobil kesayangannya dijejer, layaknya diparkir, di samping bantalnya. setelah itu, barulah dia bisa tertidur. saat terjaga, selain tangannya mencari botol susunya, juga secara refleks mencari mobilnya.

pernah ayah mau menggantinya dengan mobil boneka warnah merahnya, tapi nampaknya di tidak terlalu suka. dia lebih menyukai mobil-mobil kecilnya.

selain mobil kecil itu, G juga dapat warisan mobil dari daeng udel di bone. kalau dia ke atas, mobil itu juga harus ikut. ke bawah, juga seperti itu.

tadi pagi, selasa (17/11/2009)  G melakukan hal yang luar biasa, untuk pertama kalinya mobilnya itu diangkat sendiri hingga lantai dua. dia tidak meminta bantuan, mungkin karena dia melihat saya juga membawa barang.

saya membawa koran, mug berisi kopi, rokok, dan hp (celana rumah tak ada kantongnya) ke depan tv. tanpa meminta dan mengucapkan sesuatu, dia langsung mengangkat mobilnya. ada kepuasan yang terpancar saat dia mencapai lantai dua. dengan nafas panjang, dia langsung mengendarai mobilnya.

kalau G memakai mobil itu, seolah mengendarai mobil beneran. cara memutar setir dan menggerakkan tuas di bagian kiri yang seolah diibaratkannya sebagai perseneling. heheheh.

barang kedua yang harus menemaninya tidur adalah bantal dan guling. mungkin semua orang akan mengatakan wajar, tapi kebiasaan G ini berbeda. kadang bersama bunda terheran-heran juga.

“apa enaknya memakai bantal dan guling tanpa pelapis?” jadilah kedua barang itu menjadi kasar karena menyisakan kain pelapis dalamnya. kalau ayah dan bunda pastinya akan merasa “gele-gele” atau geli. tapi, G justru menyulainya.

terkadang, bunda sudah merapikannya, datang G semua dibuka… hehehe. tak hanya itu, kasur pun tak suka dilapisi dengan seprai. akhirnya, disisakan separuh tempat tidur tanpa seprai untuknya. hasilnya? yah, jadilah semua barang-barang itu berbau pesing. bantal, guling, dan kasurnya.

G suka yang kasar-kasar, itu simpulan kami. sekarang, karena kami mengakali tempat tidur dengan lapisan plastik, dia tidak kehabisan akal. plastik yang terpasang paten itu pastinya tidak bisa dia buka. jadilah setiap mau tidur G mengambil banyak bantal dan guling tanpa sampul ke tempat tidur.

gunanya, bantal dan guling kasarnya itulah yang dijadikans ebagai alar tidur…. mantap. karena senangnya dengan yang kasar-kasar, dia sukanya tidur di pinggir yang langsung bersentuhan dengan kelambu. kadang kami perhatikan, sambil tidur, tangan dan kakinya dielus-eluskannya di kain kelambu yang kasar.

barang lainnya adalah selimut besar berkain kasar. dulunya itu adalah selimut ayah waktu masih kuliah dan tinggal di antang makiobaji. mama puang belikan selimut karena ayah memang suka memakai selimut kalau tidur, jadi semacam selimut warisan deh.

G paling suka memakai selimut itu meski sudah “astagafirullah”  bau pesingnya.

beberapa hari terakhir, kasur kecil punya abang rio yang biasanya di depan televisi, disingkirkan bunda untuk dibersihkan. kasur kecil yang selalu dibuka seprainya oleh G. tadi, selasa (17/11/2009), G ngotot mengambilnya dari jemuran.

“please, tolong ayah, pakai kasur,” gaya khasnya jika meminta. dua telapak tangannya saling ditempelkan di depan dada dengan wajah memelas. wajahnya dimajukan ke depan yang malah kadang bibirnya menyentuh bibir kami. “please ayah,” kata G mengulang.

saya sempat memberikan alasan pakai tikar saja karena saya liat bagian ujung kasur belum kering benar. masih agak lembab. G menarik tangan saya ke tempat jemuran dan menuntunya memegang kasur kecil itu.

akhirnya ayah mengangkatkan kasur itu untuk dia, pastinya tanpa seprei.saya tidak tau sampai kapan kebiasaan G itu akan berakhir. tadi, dia kembali harus bersitegang dengan bunda karena dia membuka lagi sampul bantal guling yang lain. rupanya dia ingin menambah stock bantal gulingnya.

hari ini saya menulis cerita ini sebagai kenangan. saya teringat kejadian hari minggu kemarin. saat bermain bersama G, entah kenapa G tiba-tiba minta dibelikan mobil. saya pikir mobil mainan, saya bilang bulan depan ayah janji belikan minan mobil lagi. ternyata bukan itu yang dimaksud. “ayah, mobil besar. nanti G pakai balap… ngeng-ngeng -ngeng, begitu,” kata G menirukan gayanya menyetir mobil.

Bunda menyela memberikan penjelsan kalau yang dimaksud G adalah mbil beneran. pelukan hangat dan ciuman di jidat G. saya peluk G cukup lama, setelah itu saya pegang pipinya, saya tatap matanya (gaya komunikasi yang selalu saya lakukan), “insya Allah, doakan ayah kerja yang kuat biar tambah rejeki. nanti ayah belikan mobil.”

itulah janji saya saat itu pada G. seperti biasanya, dia pun mengangguk tanda paham dan setuju. “iya ayah. nanti G kasi belok-belok yah,” oceh dia melanjutkan khayalannya. telunjuk kami saling kami tautkan dengan jempol disatukan (bahasa berjanji antara kami). doakan, amin.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada November 17, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: