24 jam kritis, 3 kali operasi

puang nanna berjuang melawan maut

ADE' BAYI-ALI-5MANUSIA hanya mampu berusaha semaksimal mungkin, tapi pada akhirnya semua akan kembali pada ketentuan Sang Maha Pencipta. 24 jam rasanya terlalu kasip untuk kami manfaatkan tiap detiknya. tak ada henti, ikhtiar, doa, dan pada akhirnya kami harus tawakkal menyerahkan semuanya pada Allah. semua kuasamu. sandaran terkuat dan harapan tertinggi kami sekeluarga. selamatkan puang nanna.

selasa (4/9/2009) pukul 05.00 wita, puang nanna sudah terbaring di ruang operasi rumah sakit bersalin budi mulia, jalan timah, makassar. untuk ketiga kalinya puang nanna harus menghadapi situasi yang sama untuk menyempurnakan takdirnya sebagai seorang ibu. operasi/bedah caesar

Daeng umpa dan daeng fadli sudah mengisi rahim itu yang kemudian dilahirkan melalui ”syatan” pisau di meja operasi. peristiwa itu kembali harus dilalui untuk seorang generasi tercinta di usia puang nanna yang tak lagi muda.

tidak hanya puang nanna, puang renal juga harus menghadapi situasi yang sama. meski telah berulang tiga kali, puang renal tetap saja tegang.

puang etta, mama puang, dan puang pipa turut hadir memberikan semangat. saat itu, ayah tidak sempat hadir karena pulang dari kantor pukul 03.00 wita dan baru bisa istirahat sekitar pukul 04.00 wita. setelah memastikan puang nanna masuk ke ruang operasi, ayah istirahat sejenak. semoga semua berjalan lancar.

G65sekitar pukul 08.00 wita, bunda sigap bersiap berangkat ke rumah sakit. tapi, seperti biasanya, G malas-malasan mandi dan bersiap. termasuk kami harus mendahulukan sarapannya sebelum berangkat.

saat bersiap itulah, puang pipa menelpon agar ayah segera ke rumah sakit. katanya kondisi puang nanna kurang bagus. ”cepatki ke budi mulia,” kata puang pipa.

berusaha secepatnya bisa berangkat ke rumah sakit. saya mencoba tetap tenang dan meyakinkan diri bahwa tidak ada masalah. sampai di sana, saya sudah melihat wajah-wajah kecemasan. apa yang terjadi?

beberapa saat setelah operasi, kondisi puang nanna stabil. ”kondisinya tadi sudah bagus. pukul 08.00 tadi mulai memburuk,” kata puang pipa. Qur’an kecil tidak pernah lepas dari tangan mama puang. duduk di kursi depan ruang operasi sambil terus bibirnya lamat terdengar dia mengaji. Matanya terus basa dan memerah, buliran bening air mata itu terus mengalir deras.

alhamdulillah, ade’ G sudah selamat dalam operasi (katanya nanti namanyaADE' BAYI-ALI-4 andi bagenda ali, sama dengan nama kakeknya atau ayah dari paung renal). lahir dengan berat 4,5 kilogram dengan panjang 50 sentimeter. bayi berukuran ”jumbo” mengikuti dua saudaranya yang ukuran lahirnya memang besar. tapi, dibandingkan dengan daeng umpa dan daeng fadli, ade’ bayi ini yang paling besar. yang membuat ade’ bayi ini agar berbeda karena dia berkulit hitam. Burungnya juga besar dan hitam…hehehe.(katanya sih nanti berubah juga). kami mohon maaf, karena terpaksa kegembiraan tidak begitu sempurna menyambutmu anakku karena ketegangan belum berakhir. puang nanna (mama ta) masih di dalam ruang operasi dengan kondisi yang belum menentu.

pukul 10.00 wita, kondisi bertambah parah. dokter yang menanganinya, dr wahyudi, dr deviana soraya riu, dan dr eddy rubianto moeljono (yang juga pemilik rumah sakit) meminta tambahan darah dua kantong.

puang renal kemudian menghubungi adiknya, andi lullu untuk mengurus darah di palang merah. karena golongan darah puang nanna termasuk langka, AB, saya kemudian menghubungi beberapa orang teman untuk bantuan donor.

ketegangan semakin terlihat di wajah semua keluarga. informasi yang kami dapatkan dari ruang operasi, puang nanna mengalami pendarahan hebat.

puang singke juga datang ke rumah sakit. setelah puang nanna ditambah darah, terdengar kabar jika kondisinya sudah cukup baik. tapi, rasa gembira itu hanya bertahan beberapa menit. kondisi puang nanna kembali drop.

dokter saya lihat berjalan tergesa masuk ke ruangan. Beberapa kali puang pipa, puang renal, masuk ke dalam ruangan dan keluar dengan wajah pias. di kamar sikas, rencana kamar puang nanna yang tidak pernah dipakainya saat dirawat (kamar itu juga yang dipakai puang yus, saat melahirkan andi rizky di rumah sakit itu), semua orang tegang.

keadaan semakin menegangkan saat saya melihat puang renal dan puang etta dipanggil masuk dalam ruangan dokter. ada apa ini? pasti ada yang luar biasa dan tidak beres.

ternyata betul, saya melihat dr eddy beberapa kali memegang pundak puang etta untuk meyakinkan kalau ini adalah langkah yang harus ditempuh untuk menyelamatkan puang nanna. rahim harus diangkat.

Puang nanna ops1”kalau itu memang yang terbaik, silahkan,” kata puang etta. jarum jam menunjukkan sekitar pukul 12.30 wita, puang nanna kembali harus menjalani operasi yang kedua kalinya pada hari itu. kami semua hanya bisa pasrah.

detik, menit, jam seakan berlalu begitu cepat. putaran waktu tak mampu kami imbangi ditengah rasa panik, cemas, ketakutan yang datang mendera terus menerus. tak ada tempat yang nyaman.

stok darah yang semakin tipis harus terus ditambah. usai operasi tak juga mendatangkan hasil positif. meski kami berharap, operasi kedua sudah akan memberi harapan lebih baik.

puang beddu, puang murni, puang ani, puang ati, dan daeng didin tiba dari bone. puang yaya, yang sudah datang sebelumnya, juga menambah amunisi semangat dan harapan yang belum bisa kami kira. kami bertambah kuat disertai kesedihan yang bertambah pula. sesekali kami saling bertanya apa yang terjadi?

bersama puang pipa, ayah ke rumah puang nanna di baruga untuk menanam ari-ari dan rahim puang nanna yang sudah diangkat. pengalaman pertama ayah menanam ari-ari ade’ bayi.

pulang dari baruga, keadaan bertambah kritis. stok darah harus tetap disediakan. sekitar pukul 19.00 wita, saya ke kantor mencari teman-teman yang bergolongan darah ab sekaligus membawa surat dan sample darah untuk dibawa ke palang merah. ”siapkan dua kantong darah,” begitu pesan dari dokter.

sampai di palang merah, ternyata apa yang ayah takutkan terjadi. sudah tidak ada lagi stok darah ab. beruntung ada teman di kantor yang tadinya sudah saya mintai kesedeiannya, namanya rahman, yang bisa membantu. saat itu juga dia bersedia ke palang merah untuk mendonorkan darahnya dengan ikhlas.

dua kantong darah akhirnya siap untuk jadi persiapan. pulang rumah sakit budi mulia, saya liat kondisi semakin sedih. bunda dan G saya antar pulang ke rumah dulu.

memenangkan diri beberapa saat di rumah, bunda sempat bertanya, bagaiaman perasaan ayah dan kemungkinannya. ayah bilang, insya Allah tidak ada masalah. penuh keyakinan ayah mengatakan itu.

Puang nanna ops6pulang ke rumah sakit, situasi bukannya tambah baik, malah terlihat semakin runyam. Tidak ada mata yang terlihat normat, semua merah dan basah. dari informasi yang saya dapatkan, puang nanna terus mengalami pendarahan dan tekanan darah tidak normal. kecemasan menyerang saat saya liat beberapa orang tim medis dari dalam ruangan, termasuk dokter terlihat mondar mandiri keluar masuk ruang operasi ke ruangan sebelahnya.

tidak beberapa lama, sekitar pukul 22.00 wita kami mendapat informasi kalau puang nanna harus pindah atau dirujuk ke rumah sakit yang memeiliki peralatan lebih baik. dia harus dirujuk ke rumah sakit yang peralatannya lebih memadai. dokter merujuk rumah sakit islam faisal yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah sakit itu.

semua hanya terperangah, pasrah, dan tidak tau mau bilang apa. Tak ada kalimat yang terlontar dari bibir selain gelengan kepada serta jawaban air mata yang tak lagi kuasa tertahan oleh kantung mata. bisa dipastikan situasi sudah sangat kritis hingga harus meminta bantuan.

sekitar pukul 21.15 wita, puang nanna harus dinaikkan dalam ambulans yang akan membawanya kepada harapan baru.

kalau tadinya ayah masih bisa tenang, waktu saya angkat puang nanna naik ke ambulance, kebetulan saya sendirian di atas mobil saat diangkat, ketakutan mulai menyerang. saya mendengar suara nafas puang nanna sangat berat. sangat berat, seperti orang mengerang.

air mata tak terbendung. saya pegang kedua tangannya sudah sangat lemah. satu harapan saya saat itu, bertahan ki puang nanna, insya Allah tidak sia-sia perjuangan ta.Puang nanna ops3

saya tersadar dan masih menyimpan harapan besar kala mengingat tepukan di bahu saya saat ustad yang dipanggil puang yaya (ayah angkat puang yaya di komplek pertamina), terapi sufi, pamit pulang. ”Insya Allah,” kata dia saat kami bertanya bagaimana kondisinya. dia menyampaikan kalimat itu dengan harapan besar yang saya lihat di matanya. dia begitu meyakinkan menyebut kalimat yang ayah artikan sebagai harapan keselamatan.

boncengan dengan daeng renal mengejar ambulance yang melabrak semua aturan. ayah bisa pastikan, tidak ada orang dari dua keluarga besar yang datang merasakan pijakan kakinya lagi di bumi. semua berada dalam kecemasan puncak.

ujian masih harus terlewati jika ingin naik kelas. Allah sedang menguji puang nanna, menguji kita semua. keangkuhan manusia sebagai mahluk dan hamba luluh lantak dari ketakberdayaan kami. tak ada lagi yang kami harapkan selain pertolongan tuhan.

keputusan dokter sekitar pukul 12 malam membuat kami terperangah, puang nanna harus kembali dioperasi. dini hari itu, segala daya upaya dikerahkan untuk mendapatkan empat kantong darah ab untuk keperluan operasi.

Puang nana ops4sempat muncul dalam benak apakah ini adalah jawaban dari kecemasan saya sejam yang lalu? wajah puang nanna yang kesakitan terlihat jelas, daeng umpa dan daeng fadli, ayah tidak mampu untuk menatapnya. apakah kedua ponakan ayah ini akan menjadi piatu dini hari ini?

ayah harus berusaha tenang dalam situasi ini. alhamdulillah, puang singke, andi lullu, asmi, didi, puang renal, puang murni, puang yaya, puang ani, puang ati, puang pipa, mama puang, puang pipa, dan semua keluarga (beberapa nama tidak saya kenal) bisa bekerja sama dengan sinergi dan cepat demi satu tujuan.

lagi-lagi kami harus berterima kasih pada pertolongan Allah. saudara-saudara di kosmik, adinda ancu dan ilo, membantu tanpa pamrih. eko (wartawan media indonesia), andi mulyadi (yang harus meninggalkan tugasnya di pln), dan semuanya yang saya tidak semua tau namanya. terima kasih.

allah telah memberikan pertolongannya melalui mereka yang datang ke pmi. termasuk dua dokter dari rumah sakit faisal yang akan menyumbangkan darahnya. semua karena pertolongan Tuhan. pendonor datang dengan ikhlas tanpa ayah tau siapa dia. Dan saya yakin, mereka pun tidak perlu mengetahui siapa yang mereka tolong karena semua dari hati mereka. sekali lagi, terima kasih.

situasi menegangkan datang silih berganti. awalnya tiga orang yang di tes darahnya, hanya satu orang yang layak mendonor. sua orang gagal. di tengah kepanikan, silih berganti datang orang-orang yang ayah tidak kenal dan mau menyumbangkan darahnya dengan sukarela. Kadang mereka hanya mengatakan, saya dapat informasi dari teman katanya kita butuh darah. terima kasih kepada semua yang sudah membantu. saya berhutang nyawa kepada saudara semuanya. semoga saya diberi kesempatan oleh Allah untuk membalasnya, meski saya sadar saudaraku tidak membutuhkan imbalan.

belum lagi selesai masalah pendonor, muncul masalah baru. tidak ada sampel darah yang bisa diambil dari tubuh puang nanna. mencoba mengambil dari saluran utama, arteri, pun gagal. tidak ada setetes darah pun yang bisa dijadikan sampel.

”sebegitu kritisnya kah kondisi puang nanna sampai tidak ada setetes darahpun yang bisa diambil?” petugas di pmi tidak mau mengambil risiko dengan mengeluarkan darah ab yang kami minta.

akhirnya, kami mengambil langkah berisiko, bersama dengan dokter dari rumah sakit islam faisal, saya menadatangani surat perjanjian bahwa semua risiko kami tanggung. jika terjadi sesuatu hal akibat darah yang tidak melalui proses filtrasi dan proses pencocokan jenis darah, ayah yang bertanggung jawab sebagai keluarga. saya harus memberanikan diri bertandatangan dan membubuhkan cap jempol demi satu harapan, puang nanna selamat. semua ayah pasrahkan kepada tuhan. Bismillahirrahmanirrahim.

”darahnya sudah ada? kalau ada satu kantong bawa langsung saja” ternyata darah sangat dibutuhkan, padahal proses pemeriksaan darah belum selesai. kami sangat beruntung, darah seorang teman, eko, cocok.

begitu satu kantong darah selesai, tanpa proses pencocokan, ayah langsung membawanya ke rumah sakit (yah, mengembalikan gairah muda ayah yang dulu sempat terobsesi mau jadi pembalap…hehehe).

puang ani sudah menunggu di masjid langsung menyambut dan berlari membawa darah ke ruang operasi. puang ani sepertinya memang menunggu di masjid karena setiap saya kembali, dia sudah standby di teras masjid sehingga ayah tidak perlu lagi turun dari motor. ayah membayangkan paddock mobil formula 1, mobil masuk dan langsung disambut mekanik.

Allah ternyata masih memberikan kesempatan kepada puang nanna untuk melanjutkan hidup. beberapa orang datang, temannya puang singke, temannya andi lullu, mahasiswa asmi, dan lainnya yang kadang satu dari kami di pmi tidak saling mengenal. Kami hanay disatukan dalam satu tujuan, darah ab untuk memberikan harapan hidup puang nanna. Kami sadar, ini hanya sebagian dari usaha dan Allah-lah yang akan menentu hasil akhirnya.

enam kantong darah bisa tersedia malam itu. dua kantong sudah ayah bawa sebelumnya, dua lagi sekitar pukul 04.00, rabu (5/9), kami bawa lagi ke rumah sakit. dua kantong lagi kami simpan di pmi sebagai persiapan. pagi itu akhirnya kami kelebihan darah.

sampai di rumah sakit, kami mendapatkan kabar baik jika operasi sudah berjalan. hasilnya kami masih menunggu.

kecemasan harus berulang saat operasi pertama. ssai salat subuh operasi caesar pertama di budi mulia, hanya saja, 24 jam berikutnya, kecemasan kami sudah tiga kali lipat di rumah sakit berbeda, rumah sakit islam faisal. Pukul 05.00 pagi, kami masih belum tau apa yang bakal terjadi selanjutnya. Dam 24 jam, puang nanna harus menghadapi 3 kali operasi dengan lebih lebih 10 kantong darah yang sudah masuk ke dalam tubuhnya.

pastinya, kami berharap sesuai dengan  harapan dan doa kami. puang nanna kembali tersenyum. pastinya keluarga kami akan sangat sepi kalau puang nanna tidak ”mannoko” (hehehe…bercanda puang nanna)

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada Agustus 11, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: