Rekan, Sahabat, Saudara

Putut Sugeng Wicaksono

”Saya tidak berharap menjadi segalanya bagi setiap orang.

Saya hanya ingin menjadi sesuatu untuk seseorang.”

Javan, penemu gas laser kelahiran Iran

MASUK dalam lingkungan orang berseragam coklat, awalnya bukan pilihan yang saya senangi. Hanya karena tidak ada pilihan lain yang membuat saya menjadi tertantang untuk menawarkan diri.

”Kalau tidak ada yang mau, saya yang diliputan kriminal”

Itulah kalimat yang membuat perjalanan jurnalistik saya akrab dengan orang berseragam coklat alias polisi. Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, bergaul dengan polisi sebelumnya adalah hal sulit saya lakukan dan bahkan enggan saya lakukan.

Banyak dalam rentetan perjalanan membuat saya alergi dengan orang-orang yang selalu menenteng revolfer itu. Mungkin itu hal yang wajar, karena masa remaja saya juga lumayan bandel. Malah saat remaja sempat terlintas dalam kepala pembalasan dendam kepada polisi waktu seorang sahabat karib saya meninggal yang penyebabnya akibat ditabrak polisi dalam aksi kejar-kejaran.

Dalam perjalanan jurnalis saya pun, mungkin hanya dalam liputan insedentil saja yang membuat saya harus berhubungan dengan Pak Polisi. Diawali dengan satu kalimat itu, saya harus intens dan bahkan harus ”berkantor” di semua kantor polisi di Batam.

Stereotipe ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan setelah saya bertemu dengan pribadi-pribadi yang ada di dalamnya. Tidak seperti yang saya bayangkan.

Liputan peristiwa kriminal ternyata menyenangkan. Malah saya lebih menikmatinya dibanding ketika saya ditempatkan di hiburan, liputan politik, perkotaan/pemerintahan, olahraga. Hanya saya tidak bisa membandingkannya dengan liputan peristiwa bencana karena ada unsur humanis yang berbeda.

Pengantar yang lumayan panjang yah…..

Putut Sugeng Wicaksono. Nama itu diperkenalkan dari seorang yang lebih awal saya kenal di Poltabes Barelang, Batam. ”Nanti Iccang saya kasi kenal sama teman saya. Namanya Putut. Dia yang nanti jadi Kasat Narkoba,” kata Anggoro Sukartono yang kala itu menjabat Kabag Bina Mitra di Poltabes Barelang.

Seandainya saya bisa punya nilai, antara Bang Anggoro dan Bang Putut maka dalam hati saya dua orang ini akan mendapat nilai sama. Bersama Bang Anggoro saya banyak berdiskusi dan mendapat ilmu kepolisian, bidang yang saya geluti saat itu. Hubungan kami pun sampai pada titik persahabatan dan persaudaraan yang kian erat. Meski dibalik itu, saya harus tetap menjaga profesionalitas. Bersyukur Bang Anggoro bisa mengerti posisi saya sebagai jurnalis yang lebih banyak memandang sesuatu dari sisi ”hitam dan putih”. Terima kasih Bang Anggoro.

”Cang, ayo ke narkoba (Satuan Narkoba). Saya kasi kenal sama sahabat saya. Saya yakin, dengan dia nanti, kamu akan banyak berita heboh. Dia orangnya hebat lah,” kata Bang Anggoro mengajak saya ke ruang Bang Putut.

Laki-laki berperawakan tinggi besar, kulit agak gelap, dengan gaya rambut lumayan ABG menyambut kami dengan senyum mengembang. Belum berapa lama berkenalan, suasana seakan cair dan cepat akrab. Pastinya karena ada Bang Anggoro.

Awal perkenalan itulah yang membuat perjalanan hidup saya di Batam lebih menyenangkan. Bang Anggoro yang sudah lebih awal saya anggap sebagai sabahabat, saudara, dan pastinya mitra, bertambah dengan kehadiran pria asal Jawa, namun kadang bergaya Medan itu.

Saya menghargai keduanya karena mereka mampu menempatkan sesuatu pada porsinya. Sangat profesional menurut saya. Yang paling utama, dia menghargai profesi saya sebagai jurnalis. Meski kami akrab, mereka tidak pernah menghalangi atau mencoba mempengaruhi independensi saya.

Hubungan kami sebagai mitra kerja, sahabat, dan saudara berjalan begitu dinamis. Obrolan dan interaksi tidak hanya sebatas kerja, tapi pada hubungan kekeluargaan. Tapi, satu yang harus saya angkat topi sama mereka, mereka sangat menghargai batas-batas prefesionalisme dan apa yang menjadi wilayah-wilayah independensi jurnalis.

Bang Putut dan Anggoro dalam kamus saya kala bertugas di Batam sebagai wartawan kriminal ibaratnya duet maut …..hehehehe, penyanyi dangdut kali yah…..

Sebenarnya, masih ada satu rekan, sahabat, dan orang yang saya anggap saudara di Batam. Ibrahim Tompo. Yah, awal kedekatan yang saya pikir agak berbeda dengan Bang Putut dan Anggoro. Dengan Bang Ibrahim, saya punya kedekatan emosional karena kami sama-sama dari tanah Sulawesi. Apalagi kalau kami bertemu di kampung orang, pastinya rasa solidaritas dan persaudaraan kami akan semakin kental. Sehingga, awal interaksi memang sudah langsung akrab. Dari awal kebersamaan memang sudah ada jalinan romantisme yang mendahuluinya diluar hubungan kerja. Berbeda dengan Bang Putut dan Anggoro yang interaksi awalnya asli hubungan kerja dan perlahan berlanjut menjadi persahabatan dan persaudaraan. Mungkin itu yang berbeda, meski pada tataran nilai saya akan menemukan arti dan kesan tertinggi untuk ketiganya.

Diakhir Oktober 2008, dalam daftar YM ada ID yang sudah sekian lama tidak pernah aktif tiba-tiba berwarna kuning. xlpputut@yahoo.com. Wow…Bang Putut on line.

Berkat kecanggihan teknologi itulah saya kembali mengulang kisah humanis bersama suami Ririn Vidiarini ini. Kami pun kembali bercerita dengan berbagai hal. Sentilan nakal gaya Bang Putut masih kadang dia lontarkan. “Icang Makang Ikang,” dalam salah satu tulisannya. Yah…itu bentuk anekdot dalam bahasa Makassar okkot atau kelebihan G yang menjadi cirri khas orang Bugis Makassar dalam berbahasa Indonesia. KelebihanG dan kekuranganG huruf G.

Kami saling bercerita soal keluarga dan kondisi anak-anak kami. Kami sempat obrolkan Bang Anggoro, sebelumnya saya sempat berkirim pesan dengan Bang Anggoro, yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan kepolisiannya.

Bang Putut menceritakan perkembangan dua bidadari kecilnya Naella Putri Ramadhani, lahir 26 Oktober 2004, yang kini sudah masuk sekolah TK dan Carissa Putri Fajriani, lahir 18 Januari 2007, yang kini sudah bergabung di play group.

Saat di Batam, sebenarnya ada cerita menarik yang menjadi obrolan dengan Bang Putut diluar urusan pekerjaan. Awal saya menikah, Bang Putut selalu menanyakan kondisi istri saya. ”Istri lo dah hamil belum? Wah kok belum sih …,” tanya Bang Putut yang entah sudah pertanyaan kesekian kalinya.

Sebagaimana dalam cerita lain dalam blog ini, saya bersama Bunda memang menunda untuk punya momongan, tapi tidak pernah saya bilang sama Bang Putut. Biar lebih menarik saja obrolannya.

Sampai suatu ketika, dengan gaya meyakinkan, Bang Putut menjelaskan sama saya bagaimana caranya agar bisa cepat punya anak. Kacau pokoknya. Mulai dari gaya angkat kaki sampai beberapa trik yang mungkin dianggap lucu. Jujur dalam hati saya tertawa melihat semangat Bang Putut mengajari saya (meski juga saya kadang harus berwaspada karena tidak jarang Bang Putut muncul jahilnya).

Tapi, dibalik itu semua, saya melihat bahwa inilah persahabatan. Inilah persaudaraan. Bentuk kepedulian yang sangat luar biasa.

Beberapa bulan kemudian, G sudah dalam kandungan. Obrolan kami semakin seru karena saat itu, istri Bang Putut juga hamil. Jadilah wacana kami berada dalam satu frame. Setiap saat ada saja yang kami obrolkan mengenai itu, kondisi istri masing-masing.

Memang Bang Putut lebih pengalaman karena saat itu kehamilan anak keduanya, saya baru pertama, Bang Putut selalu memosisikan diri sebagai pemberi nasihat dan masukan. Berdasarkan hitungan waktu, umur putri kedua Bang Putut Carissa dan G tidak terpaut lama dengan usia G. Hanya satu minggu. Carissa lebih tua 7 hari, G lahir 25 Januari 2007.

Wajar memang, obrolan mengenai perkembangan kandungan istri kami selalu nyambung.

Yah, itulah masa-masa indah saya di Batam. Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang terbaiknya. Saya ingin kembali mengulang tulisan yang saya kutip di awal tulisan ini:

”Saya tidak berharap menjadi segalanya bagi setiap orang.

Saya hanya ingin menjadi sesuatu untuk seseorang.”

Javan, penemu gas laser kelahiran Iran

Bang Putut sudah menjadi ”sesuatu” bagi saya dan keluarga saya. Mungkin saja dari yang dia ajarkan atau diskusikan ada yang saya pergunakan atau praktekkan dalam proses pembuatan dan perkembangan G saat itu. Tidak menutup kemungkinan itu. G belum lahir, Bang Putut sudah memberikan perhatian pada G dengan mengingatkan saya untuk selalu menjaga kesehatan Bunda.

Terima kasih dari G yang saya sampaikan kepada Om Putut. Mudah-mudahan, suatu hari kelak G bisa secara langsung menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bang Putut.

Saya menulis tulisan ini tanggal 2 Vovember 2008 pukul 00.45 Wita saat saya menekan tanda titik ini. Perpisahan secara fisik hampir dua tahun yang terasa lama. Akhir November 2006 lalu, bersama istri saya pamit sama keluarga Bang Putut.

Ada harapan yang Bang Putut sampaikan, ”Iccang harus lebih baik. Saya yakin, Iccang akan berhasil,” kata Bang Putut kala itu. Kami langsung meng-amin-kan. Insya Allah, kami kini sedang menapak jalan itu.

Harapan saya, kita bisa bertemu dan mengulang cerita indah ini yang akan kita kisahkan pada generasi kita. Amin

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada November 1, 2008.

6 Tanggapan to “Rekan, Sahabat, Saudara”

  1. Selamat-selamat cang….nikmati hari-hari bahagia

  2. salam buat saudaraku icang , semoga waktu tidak merubah prilaku yang yang baik. maju terus utk suatu kebenaran, dan Tuhan selalu memberkati sdrku. salam utk keluarga. jkt 4 feb 2011 (pkl 12.10 wib)

    • salam bang anggoro.
      amin, terima kasih atas doanya. lama tak ketemu bang anggoro. kapan ke makassar?

  3. Bang waktu di batam /polda kepri di sana,apa pak mamat surachmat dir intelkam,kenal beliau

    0

  4. Sekarang pak mamat surahmat sudah suspati 2013,,kemarin ngobrol beliau cita2 pengin di jabar aja,,,,,,kata beliau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: