Sore yang Mencemaskan

G Panas dan Muntah

21 Ramadan, G menemani kami makan sahur. Biasanya kami dudk di meja makan hanya bertiga, Puang Pipa, Bunda, dan saya, Minggu (21/09/2008), untuk pertama kalinya G terjaga. G pun menemani kami menikmati menu mi rebus yang terhidang di atas meja.

Kehadiran G menambah pengalaman pertama kami selama Ramadan. Untuk pertama kalinya G ikut sahur dan pertama kalinya pula kami sahur dengan menu utama mi rebus. Kami memang agak terlambat bersiap dini hari itu. Menu cepat saji menjadi pilihan utama.

Dini hari itu, saya memang agak pulang terlambat karena sepulang dari kantor sekitar pukul 02.30 Wita, saya harus ke rumah Kak Djusman AR, Ketua LP Sibuk untuk berdiskusi mengenai pemberitaan kami yang oleh pihak Kejati Sulsel dianggap kurang ”nyaman.”

Diskusi berlangsung hingga hampir pukul 04.00 Wita. Sampai di rumah Bunda dan Puang Pipa masih tidur. Itulah awal keterlambatan. Alhamdulillah, Puang Pipa sigap menyiapkan segalanya. Jadilah mi rebus yang paling enak yang pernah saya makan buatan Puang Pipa.

Makan sahur ditemani G dan menu mi rebus menjadi satu cerita Ramadan kali ini punya warna berbeda.

Pagi harinya, G jalan-jalan keliling komplek bersama Bunda. Hingga saya berangkat ke kantor, aktivitas G biasa saja. Sama seperti bisa, masih tetap aktif dengan segala tingkahnya yang baru dan lucu.

Kecemasan saya datang saat Bunda mengirmkan pesan, ”Badan G panas dan muntah-muntah. Buka di rumah maki.” Isi pesan itu sontak membuat saya cemas menjelang buka puasa tadi. Saya merasa kok tiba-tiba G panas dan muntah.

Pengalaman G panas, muntah, dan diare pernah terjadi sebelumnya. Meski ini tidak disertai diare, tapi perubahan kesehatan yang saya anggap drastis, membuat saya cemas.

Saya segera pulang dan mendapati G tidur terlentang di depan televisi. Tidak pernah G tidur seperti itu. G paling tidak bisa tidur kalau tidak diayun, apalagi siang hari.

”Dia tadi muntah-muntah. Sudah dia kali. Dia loyo sekali, sampai tidur langsung di depan televisi,” kata Bunda menceritakan kondisi G. Setelah berbuka menikmati es buah buatan Bunda, kami segera membawa G ke dokter praktek langganannya di dekat rumah.

Tapi, sebelum berangkat, G kembali memuntahkan makanan yang telah disantapnya. Celana panjang saya pun tidak terhindarkan terkena muntahan. Saya semakin cemas.

Kecemasan kami sedikit mereda saat dokter yang memeriksanya memberikan jawaban yang bisa meredakan perasaan kami dari rasa was-was. Dia bilang hanya demam biasa. Mengenai muntahnya, tidak masalah. Dokter itu kemudian meracikkan obat untuk G.

Kembali ke rumah barulah kami tersadar, ternyata saking paniknya, kami belum sempat makan. Pantas lapar.

Hari itu, G terlihat sangat lesu dan loyo. Tidak biasanya anak kami seperti itu. Kami berharap, apa yang dibilang dokter itu benar adanya. Tidak ada masalah. Semoga …..

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 21, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: