Selamat Ulang Tahun Tribun Batam

”Saudara dan Rumah Kami”

selamat ultah bro ...

selamat ultah bro ...

”Selamat oelang tahoen,” kalimat yang tertulis di YM Ruri Hanonsari Paramita. Kalimat itu pastinya membuat saya harus menyapa Ruri yang sekarang ada di Jakarta (salah satu media sport di ibukota) langsung dengan satu pertanyaan, ”Siapa yang ulang tahun Ri.”

Sebelum Ruri menjawab, saya kembali melihat tulisan berbahasa Inggirs di YM TribunBatam yang bermakna sama. TribunBatam ulang tahun. Sebagaimana tradisi ketimuran, ucapan selamat langsung saya sampaikan kepada teman-teman TribunBatam yang sedang online dan terdaftar di YM saya. Selain Ruri, TribunBatam, Salomo, dan Nophie.

”Selamat ulang tahun yang ke-4, semoga TribunBatam makin jaya dan sukses.”

TribunBatam sebagai ”Sekolah Jurnalis” saya menyimpan kenangan yang tidak terlupakan. Perkenalan saya dengan baladhika TribunBatam berawal saat saya bersama empat orang teman, Anwar Sadat Gunna (sekarang di Tribun pontianak), Huldi (sekarang katanya di Palu, Sulteng), Hairil (sekarang jadi guru di Batam), dan Hasanuddin Aco (sekarang di Jakarta, wartawan Persda) diperintahkan ke Batam untuk bergabung bersama teman-teman di TribunBatam. Perintah langsung dari Pak Uki M Kurdi di Tribun Timur. Bang Asmadi tidak satu rombongan dengan kami karena dia sudah berangkat duluan ke Batam dan menjemput kami di Bandara Hang Nadim, pertengahan Agustus 2004.

Tribunbatam lahir dengan sangat sederhana. Saya pribadi sempat kaget melihat kesderhanaan itu dengan di beberapa ruangan yang disulap jadi kantor di BCM. Sederhana sekali. Tradisi memperkenalkan diri kami dengan teman-teman redaksi yang ada dalam ruangan kecil itu, Tari, Ruri, Ika, Uul, Menik, Pak Camat, Pak Lurah, Agus, Daru, Aji, Budi, Zuhri, ibu kita yang pakai jilbab dan manis (kalau pakai motor suka balap) namanya Indi, Iman Lohan, Rudi, dan bagian lainnya. Awal yang menjadi sejarah mengesankan dalam hidup saya selanjutnya.

Suasana semakin menyenangkan karena bersama beberapa teman tinggal bersama di Rusun Lancang Kuning. Saudara seperjuangan yang menjadi bagian dari keluarga besar TribunBatam kala itu. Bisa dibayangkan, selama beberapa tahun kita bekerja di kantor yang sama, pulang sama-sama, dan tidur bersama. Paginya, kami berangkat pun saling memanggil. Hidup yang begitu indah dalam suasana persaudaraan. Ikatan emosional dan persaudaraan kami semakin kuat karena banyak dari kami yang memang baru di Batam. Suka duka pulang sama-sama dari BCM usai pelatihan ke Lancang Kuning, apalagi saat itu teman-teman belum punya kendaraan. Jadinya kita satu metro trans atau tumpuk-tumpukan dalam taksi. Kisah manis yang tidak bisa saya lupakan.

Interaksi kami tidak hanya soal berita dan liputan, tapi sampai pada persoalan jalan-jalan, menu makan kami, dan belanja celana dalam, hehehehe…. Di waktu libur, beberapa kali kami jalan bersama teman-teman ke daerah baru. Seperti sama-sama Ruri dan Hairil ke Penyengat. Berdua sama Ruri ke Pulau Sambu karena ingin melihat Singapura lebih dekat. Pengalaman indah.

Sebelum terbit, TribunBatam sudah menajdi pembicaraan hangat dengan reporter yang tiap hari mencari berita dan wawancara, tapi tidak punya koran. Rasa penasan itu terjawab dengan terbitnya TribunBatam dengan tampilan yang sangat berbeda dengan koran lokal. Pasar Batam mulai kaget dengan kehadiran kompetitor baru yang mencuri perhatian. Alhamdulillah, Tribun Batam terbit.

Tidak lama setelah terbit, kami pindah ke kantor baru di Komplek MCP Batuampar. Kantor yang sangat representatif (dibandingkan dengan BCM) menjadi lecutan baru semangat baladhika TribunBatam.

Kekuatan reporter yang masih muda dengan bermodalkan semangat mampu diramu Mas Febby, Bang Asmadi, Mbah Roso, Mas Yon, Mbak Rimna, Bang Son, Mbak Peni, Bang Indrawan, Edy, menjadi amunisi besar saat itu. Di tangan Eko sebagai komando layout membuat TribunBatam tampil begitu mengejutkan. Di bagian layout ada Rahman, Novi, Remi ”gila” (masuk belakangan), Ustad Ganjar yang bagian bikin desain dan karikatur sama Anggun, Wahyu yang bagian mempercantik foto (kalau tidak salah istilahnya imeging) yang bekerjasama dengan Agape di bagian dokumentasi. Kerjasama yang begitu apik tercipta dalam satu tim yang hebat.

Luar biasa. Hanya itu yang bisa dikatakan publik Batam dan kompetitor. Kondisi seperti itu pun pernah saya rasakan saat awal di TribunTimur, saudara tua TribunBatam.

Semangat kerja yang terbangun begitu luar biasa dan sangat menyenangkan. Mengejar target berita tanpa harus memikirkan jam, hari, dan lokasinya. Yang pasti, kejar dulu, kalau ada masalah nantinya belakangan baru cari pemecahannya. Saya masih menyaksikan bagaimana Iman dengan semangat juangnya menyajikan foto-foto eksklusif (banyak kisah manis dan luar biasa bersamanya, ”pengejaran sumber di Batam sampai ikut kapal ke Natuna sama TNI)), Menik, Tari, Agus, Agoes Soemarwah alias Pak Camat, Zuhri, dan mungkin semuanya pernah kebagian tugas luar biasa.

Dalam catatan di kepala saya, beberapa kali teman-teman membuat berita eksklusif yang mebuat kompetitor katar-ketir. Liputan eksklusif soal penyelundupan mobil/mobil bodong, lipsus Ramadan dan lebaran, lipsus lapas, berita-berita kriminal yang bisa dikemas secara luar biasa, liputan kerjasam dengan Telkomsel soal pendidikan, dan masih banyak lagi ide-ide gila yang tersaji dalam lembarang-lembaran koran TribunBatam. Ada kebanggan saya secara pribadi memakai Id TribunBatam. Teman kadang bertanya, Iccang kok rajin sekali memakai id yang tergantung di leher? Itulah kebanggaan saya. Saya bangga dengan Rumah Kita.

Perjalanan waktu membuat TribunBatam mengalami beberapa kali rotasi reporter. Hadir wajah baru, Inyong (foto), Aprizal (foto), Sari (awalnya foto, yang kemudian beralih ke reporter hebat), Salomo Tarigan, “Kepala Dinas Pendidikan” Sihat Manalu, Zul “Ateng” Henri, dan Ramandanu. Kehadiran mereka membuat atmosfer di TribunBatam kian berwarna.

Bagaimana liputan Salomo yang sangat luar biasa mengenai pembunuhan yang dilakukan Yehezkiel. Pemuda asal Punggur yang membantai keluarga pamannya sendiri. TribunBatam membuka mata orang Batam, Tribun layak dibaca dan jadi rujukan.

Datangnya amunisi baru pun menambah daya ledak TribunBatam. Alfian masuk dan “banpur” dari Bandung Bang Richard. TribunBatam makin kokoh. Meski tidak bisa dipungkiri ada banyak masalah internal yang justru menurut saya membuatnya tumbuh semakin dewasa.

TribunBatam adalah Rumah Kami menurut saya bukanlah hanya jingle pemanis doang, tapi lebih pada hakikinya. Yah, saya merasakan suasana itu, TribunBatam sebagai rumah tempat kami berkumpul, menggantungkan harapan, dan merajut hidup. Tempat kami bersenda gurau, menangis, tertawa, dan bahkan merajut cinta. Ikatan benang merah kekeluargaan sangat terasa.

Banyak masa indah yang terekam dalam memori, tidak hanya air payaunya ATB. Setelah cetak, dengan komando Mas Febby kita beriringan naik motor ke pantai. Nongkrong sambil main gitar, bikin acara ngumpul bakar ikan, atau bahkan hanya kadang makan angin saja, dan masih banyak lagi. Teman-teman antar bagian tanpa ada sekat. Suasana yang tidak saya rasakan di tempat lain. Hubungan kerja yang terbangun begitu humanis.

Romantisme termemori dengan indah seiring dengan penguasaan pasar TribunBatam. Gagasan bari Gimick muilai digulirkan Mas Febby. Tampil dengan tambahan halaman Youngster dan Smart Woman-nya membuat TribunBatam semakin elok dan diterima pasar.

Alhamdulillah, saya beruntung pernah terlahir dan menjadi bagian dalam sejarah itu. Kenangan indah yang tidak bisa saya lupakan saat lebaran tahun 2004 di Batam. Di Lancang Kuning, kami merayakan hari berbahagia itu tanpa ketupat dan opor ayam. Hanya beberapa bungkus Indomi yang kita masak dan makan bersama. Mas Yon, Eko, Aco, Hairil, Pak Camat, juga datang teman-teman perempuan Tribun dari blok sebelah membuat suasana haru, tapi lucu. Kita terpaksa ketawa menikmati menu yang saya pikir menjadi momen paling berharga dalam hidup saya. (Sampai saya sekarang berumur 30 tahun, punya anak dan istri, baru sekali itu saya makan mi rebus saat Lebaran. Pengalaman luar biasa dan tidak terlupakan)

Setelah itu kita berombongan datang ke rumah-rumah redaktur yang sudah menetap dan berkeluargaa di Batam. Serbuan ke rumah Mbak Peni, Mbak Rimna, menjadi saat menyenangkan kita memperbaiki gizi…. (Bersyukur, lebaran tahun 2006 saya masih bisa ikut dengan beberapa penambahan rumah yang bisa kami serbu)

Kebersamaan kami di TribunBatam, sebagaimana yang telah saya ceritakan sebelumnya, tidak hanya sebatas hubungan kerja. Semua terajut dalam kebersamaan yang begitu nyata dan indah. Menjelang tidur, bersama Eko, Mas Yon, Aco, Danu, kita masih kadang biskal (bisikan kalbu atau curhat-curhatan). Mulai masalah keuangan sampai pacaran (alhamdulillah bisa jadi istri, hehehehe).

Sudah dua tahun saya tidak merasakan perayaan ulang tahun Tribun Batam yang bisanya sangat meriah. Babe sudah sibuk mempersiapkan serangkaian acara perayaan. Dan pada perayaan ulang tahun TribunBatam tahun 2006 lalu, saya mencatat sejarah sebagai juara 1 lomba makan kerupuk. Hehehe, mungkin itu prestasi tertinggi saya selama di Tribun karena main bulutangkis dan tenis meja kalah sama Babe (kapan kita main lagi Be?).

Selamat ulang tahun TribunBatam. Semoga sukses dan berjaya. Maju terus Spririt Baru Kepri

ai pasinringi

Saya bangga pernah menjadi bagian sejarah itu

Makassar, 15 September 2008

www.andigalangarzachelpasinringi.wordpress.com

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 15, 2008.

2 Tanggapan to “Selamat Ulang Tahun Tribun Batam”

  1. dalam sebuah perjalanan selalu ada kisah. catatan hidup yang tak rapuh oleh jejak yang terus bergerak.
    salam dari jauh

  2. Oyi Cank, aku pun bangga pernah bagian dari sejarah itu. Apalagi kerjaanku sekarang pake ilmunya dari Tribun banget… Wekeke…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: