Selamat Jalan Puang King

Kalau Mau Berhasil,

Pergilah ke Tempat yang Banyak Jejak Kaki

Manusia berjalan dengan takdirnya. Lembaran hidup silih berganti sesuai dengan catatan yang sudah tertera di tangan Tuhan. Meski terkadang ada yang menyamarkan bahwa garis tangan bisa ditulis oleh manusianya, tapi tidak sedikit akan kembali pada kodrat kemanusiaannya.

Satu kodrat dan takdir pasti harus kita jalani sebagai manusia adalah mati. Meninggalkan alam duniawi menuju ke belahan lembaran tulisan Tuhan dalam perjalan kita. Ruh telah menyampaikan salam dengan santun kepada jasad Puang King, Minggu (10/08/08) sekitar pukul 11.45 Wita, di Makassar.

Kami hanya bisa menangisi jasad beku yang tersenyum di hadapan kami. Sesungging seyum seakan menjadi petanda kepada kami, ikhlaskan saya pergi memenuhi takdirku dan menghadap kepada Tuhan.

Puang King sudah menamatkan tulisan dunianya dan mengakhiri perjuangan hidupnya dengan damai. Kami yang masih tersisa dengan kesedihan, harus menamatkan lembaran tulisan Tuhan yang entah kapan. Perjuangan kami belum selesai.

Tersisa hanya kenangan bersama Puang King yang meluncur deras dalam satu tema obrolan di rumah Puang Anci. Puang King diberangkatkan ke Bone dengan iringan keluarga dari rumah Puang Anci menuju peristirahatan di alam kubur.

Puang King meninggal setelah sekian lama digerogoti penyakit laki-laki, prostad. Berawal saat beliau di operasi yang terus bertambah parah hingga ajal malaikat pencabut nyawa menjemput.

Kisah ini saya ceritakan kepada G sebagai satu pelajaran yang nantinya saya yakin akan bermanfaat dalam hidupnya. Tidak banyak file memori saya mengenai sosok Puang King. Jauhnya tahapan generasi kami membuat saya kurang berkomunikasi dengan beliau. Selain itu, sejak saya kecil, sosok Puang King lebih banyak menjadi dongeng keberhasilan bagi kami di Bone. Puang King adalah gambaran dalam keluarga kami yang berhasil menaklukkan Jakarta.

Beliau termasuk sosok yang selalu menjadi pembicaraan dalam pertemuan keluarga. Puang King yang merantau ke Jakarta dan berhasil. Setiap keluarga yang ke Jakarta, Puang King selalu memberikan cita rasa berbeda untuk dikenang.

Itulah cerita yang selalu saya dapat dari keluarga mengani sosok Puang King. Dalam acara keluarga di Bone, hubungan saya dengan Puang King pun sangat jauh. Kami hanya ponakan yang berada pada arena yang berbeda kala itu. Sementara, Puang King menjadi sosok yang menjadi panutan yang sulit bagi kami untuk berbincang lepas. Paling hanya salaman dan sedikit basa basi.

Hingga akhirnya saya ditakdirkan bertemu dengan Puang King dalam suasana yang sangat memungkinkan saya untuk berbincang lebih dalam. Dengan takdir Tuhan, saya bisa mengambil pelajaran berharga dari Puang King dalam pertemuan saya di Jakarta di akhir tahun 1999.

Saat itu, saya mendapat tugas dari organisasi berangkat ke Jakarta untuk menyukseskan Munas Ikatan Mahasiswa Komunikasi Indonesia (IMIKI) yang akan dilaksanakan di Makassar. Berangkat ke Jakarta dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi sebagian orang. Karena saat itu terjadi perubahan tampuk kepemimpinan bangsa ini. Demonstrasi yang berujung pada kekacauan Jakarta menjadi bumbu kecemasan orangtua ketika saya di Jakarta.

Apalagi, ijin saya kepada Puang Etta dan Mama Puang hanya satu minggu. Tetapi, hingga beberapa kali minggu berlalu, saya belum juga pulang. Berita di televisi memberikan gambaran betapa kacaunya Jakarta saat peralihan kepemimpinan BJ Habibie yang harus digantikan Abdurrahman Wahid (Gusdur) melalui sidang istimewa.

Kecemasan semakin bertambah dengan banyaknya mahasiswa dan tokoh pergerakan dari Indonesia Timur, utamanya Makassar, yang menyerbu ke Jakarta. Tujuannya adalah mengamankan posisi Habibie dalam sejumlah gerakan massa.

Imej yang tergambar bahwa saya berangkat ke Jakarta dalam rangka itu. Saya tidak bisa menyangkal itu jika memang dihubungkan dengan rentetan kejadian yang ada. Tapi, jujur saya katakan, saya tidak masuk dalam gerakan itu.

Meski pada saat saya di Jakarta terkadang kami harus sedikit masuk pada wilayah politik, hanya sebagai batu loncatan tujuan utama kami. Mencari dana untuk kegiatan Munas IMIKI di Makassar.

Beruntung kala saya belum punya telepon genggam alias. Setiap saya menelpon, bertubi-tubi permintaan dari Mama Puang agar saya segera pulang. Puang Iding yang berhasil melacak keberadaan saya, pun menelpon dengan ”perintah” yang tidak kalah kerasnya.

Saya sadar kecemasan mereka adalah bentuk dari perhatian. Tapi, saat itu, saya pikir semua keadaan terkendali tidak seperti yang ditayangkan di televisi. Apalagi saya tidak masuk dalam kelompok pergerakan mendukung Habibie pun sebaliknya. Target kami berbeda.

Hikmah yang bisa saya ambil, dengan situasi itu saya dipertemukan dengan Puang King dan bisa mendapatkan wejangannya. Entah siapa yang memberitahukan kepada beliau kalau saya menginap di Mes Pemda Sulsel, Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta. (Pastinya saya tidak tau, tapi kemungkinannya Puang Iding).

Sekitar sore hari, Puang King datang menemui saya. Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana Puang King sudah terprovokasi dengan imej bahwa saya datang ke Jakarta untuk tujuan politis. Beliau datang dengan memakai baju safari dan bersepatu kulit. Dari penampilannya, saya yakin beliau baru pulang dari kantor.

”Kamu tinggal di rumah saja. Kalau memang ada yang kamu perlukan atau ada urusan di Jakarta, nanti saya bantu. Tidak usah di sini,” kata Puang King. Bujukan dan terkadang berupa desakan disampaikan kepada saya. Intinya saya sangat mengerti jika Beliau yang merasa paling bertanggung jawab terhadap saya di Jakarta.

Dengan rasa berat hati, saya menolak tawaran Puang King dan meyakinkan beliau kalau saya baik-baik saja. Meski dengan ngotot beliau mengajak saya, alhamdulillah dia bisa mengerti dengan satu janji, besok saya akan datang ke rumahnya.

Keesokan harinya, saya memenuhi janji datang ke rumah Beliau. (Jalannya saya tidak ingat. Yang saya ingat, saya harus beberapa kali ganti angkot dan bertanya baru sampai).

Moment itulah yang saya anggap paling berharga kebersamaan saya dengan Puang King. Gaya anak muda yang masih meledak-ledak menjadi jurus saya meminta sedikit pengalaman dan mengorek bagaimana perjuangan Puang King di Jakarta.

”Koloki berhasil Nak, salai kampotta. Lokka ki ke kampong ye maega batela ajena,” kata Puang King. Artinya kurang lebih seperti ini, ”Kalau kamu mau berhasil nak, tinggalkan kamu punya kampung. Pergilah ke kampung yang banyak jejak kakinya.”

Jawaban itu terlontar ketika saya menanyakan bagaimana dia bisa survive di Jakarta dan keberanianya untuk keluar daerah meninggalkan Pulau Sulawesi.

Kalimat itu tentunya bukanlah arti sebenarnya. ”Jejak kaki” yang dimaksud Puang King adalah daerah yang banyak orang. Pedoman itulah yang dipakai Puang King. Saya mengamini itu sebagai pelajaran berharga. Di daerah yang besar dan padat, seperti Jakarta, persaingan hidup jauh lebih ketat dibandingkan dengan Makassar. Pertarungan hidup sebenar-benarnya adalah Jakarta. Kompetisi yang keras akan mencetak kita menjadi pribadi yang kuat dan berani menantang hidup.

Petuah bijak Puang King itu menyadarkan saya dengan pengalaman perjalanan saya di beberapa daerah saat itu. Dalam perjalan itu, saya menyempatkan diri ke Bandung, Semarang, dan Bogor. Di Jakarta, saya berusaha menambah cerita dengan memperbanyak mendatangi daerah baru.

Alhamdulillah, petuah bijak Puang King menjadi pedoman dasar saya membenarkan pengalaman yang saya dapatkan. Ada sinkronisasi apa petuah Puang King dengan pengalaman yang saya dapatkan. Di Jakarta seakan tidak ada waktu santai bagi saya. Bangun subuh, jalan, pulang malam.

Di Jakarta atau Indonesia Barat wajar jauh lebih maju dibandingkan kita di Makassar atau Sulsel. Di Makassar, kami terlalu dimanjakan dengan situasi dengan persaingan yang nyaris tidak ada. Wajar kalau mahasiwa di Jakarta lebih kuat daya saingnya dibandingkan kami yang datang dari Makassar. Pikiran saya kala itu.

Puang King menurunkan sedikit pengetahuannya kepada saya yang saya yakin itu menjadi konsep dasarnya dia merantau ke Jakarta. Pengalaman saya dari Jakarta alhamdulillah melecut semangat saya untuk tidak boleh berleha-leha. ”Pulang ke Makassar saya harus lebih maju. Cepat selesai dan balik ke Jakarta.”

Itu target saya. Sebelum pulang, Puang King memberikan saya uang. ”Untuk uang saku saja nak. Kalau kamu ada apa-apa atau ada perlu, telepon saya,” kata Puang King setelah dia tidak bisa menahan saya untuk tinggal di rumahnya karena hari itu saya dan teman-teman terlanjur sudah ada janji mau ke Bandung.

Apa yang disampaikan Puang King sangat membekas dalam memori saya hingga menjadi semangat. Setelah menyelesaikan kuliah tahun 2002, saya pun ingin merealisasikan kalimat Puang King ”Koloki berhasil Nak, salai kampotta. Lokka ki ke kampong ye maega batela ajena.”

”Ayo kita taklukkan Jakarta,” itu semangat yang saya sampaikan pada Ewin, teman kuliah yang sama-sama ke Jakarta waktu tahun 1999, untuk bertarung di Jakarta. Pamit ke orangtua di Bone, ternyata saya tidak mendapat restu. Mama Puang yang paling melarang. Ibarat kata, seandainya bukan Mama Puang yang melarang, saya berangkat.

Keinginan itu saya simpan, namun semangat untuk mewujudkan itu tetap ada. ”Saya harus cari pengalaman di luar Sulawesi.” Syukur keinginan itu terwujud dengan tawaran pindah ke Tribun Batam saat ditugaskan Tribun Timur untuk bergeser. Semua saya korbankan, termasuk sekolah S2 yang saat itu juga sedang saya jalani. Hanya satu semangat, saya harus ke daerah yang lebih banyak ”jejak kakinya.”

Di Batam, saya sempat mendapat peluang ke Jakarata, tapi gagal. Sekitar tiga tahun di Batam, saya memutuskan untuk pulang kampung ke Sulawesi. Meski sekitar awal tahun 2008 (setelah bergabung di SINDO) saya kembali mendapat tawaran untuk menapak Jakarta.

Tapi saya pikir saya sudah tua untuk memulai pertarungan di sana. Karena sudah berkeluarga dengan satu anak, stabilitas tentunya saya butuhkan.

Kenangan itu sislih berganti hingga saya mengangkat jasad Puang King naik ke ambulance yang akan membawanya ke Bone. ”Bagian kepala ki Nak,” kata Puang Gappa waktu saya mengambil posisi ingin memindahkan Puang King ke dalam tandu. Takdir Tuhan kembali berjalan, dalam pengabdian terakhir saya kepada Puang King yang sudah menjadi guru saya, dipercayakan menjaga bagian kepala beliau. Bagian yang membawanya bisa menurunkan sebagian ilmunya pada saya.

Selamat jalan Puang King. Jika masih ada cita dan harapan tersisa, percayakan kepada kami. Masih ada sepupu dan saya yang akan melanjutkan perjuangan untuk melakoni goresan Tuhan di buku takdir kami.

Damailah Puang King. Takdir mengharuskan engkau berangkat lebih awal menyusul Puang Wati dan Puang Lipu.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: