Besok Bikin Apa Lagi Yah…

Kencingi Kasur Puang Pipa

BEBERAPA waktu terakhir ini saya tidak menulis perkembangan G. Kesibukan yang kadang tidak berhenti membuat waktu tersita. Hari ini, Minggu (10/8/08), saya menyempatkan diri menulis rangkaian kata. Tujuan saya untuk menceritakan bagaimana perkembangan G.

Intinya, G semakin banyak kemajuan. Keinginannya semakin bermacam-macam. Tadi pagi, Puang Pipa “marah-marah” sama G. Tidak sekali itu G melakukan tindakan nakal sama Puang Pipa, tapi sudah berkali-kali.

Pagi tadi, G yang baru bangun tidur biasanya langsung bermain dengan orang-orang disekelilingnya, termasuk Puang Pipa. Sendal rumah besar punya Puang Pipa dipakai. G memang termasuk senang masuk ke kamar Puang Pipa karena dia bisa bermain di atas kasus empuknya Puang Pipa.

Kembali dia mengulangi perbuatan yang selalu membuat jengkel tantenya yang manis itu. Dengan santainya dia naik ke kasur tanpa melepas sendal. Kalau hanya begitu sih .. Puang Pipa belum murka. Tapi, selanjutnya, tanpa merasa bersalah dan berdosa, G kencing.

Kasur menjadi basah dengan air kencing yang bau pesingnya luar biasa. Tidak ada yang bisa menahan. G sudah mengeluarkan kencingnya. Puang Pipa hanya bisa dongkol. “Nakal ini. Marah Puang Pipa,” kata Puang Pipa dengan amarah tertahan.

Tanpa berdosa, G ketawa dan berlari, dia tidak peduli dengan kemarahan Puang Pipa. G tetap saja mengajak Puang Pipa bermain. Dasar anak-anak…..

Tidak hanya itu yang terkadang membuat kami harus menyediakan tenaga dan waktu ekstra untuk mengawasinya. Dia semakin lincah, jahil, dan kacca. Semua barang seakan ingin dijamahnya. Tidak ada yang terlewat selama barang itu bisa dijangkaunya. Malah, dia semakin pandai memakai alat bantu.

Kursi plastik kecil peninggalan Abang Rio menjadi andalannya. Diangkat ke sana kemari untuk dijadikkan pijakan. Jatuh dari kursi malah tidak membuat dia kapok. Kejadian terjatuh dari kursi terjadi beberapa waktu lalu.

Kala itu dia ingin memainkan telepon yang ada di atas meja. Naiklah dia di kursi besar. Tapi, ternyata pijakannya salah, kakinya menginjak ujung kursi sehingga kursi terbanting. G pun ikut terjatuh. Nangis sudah pasti.

Masih soal kepintarannya yang bertambah. Tadi pagi, setelah mengerjai Puang Pipa, dia bermain air. Seperti biasa, dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum di dispenser. Tidak ada yang mengajrkan bagaimana air itu dikeluarkan, tapi dia bisa tau karena sering melihat. Wajar memang karena kemampuan meniru anak seumuran itu sangat kuat.

Jadilah dia bolak-balik mengisi gelas di tangan. Awalnya sih dia minum. Tapi, setelah itu, dia hanya membuang-buangnya. Lantai yang basah karena tumpahan air berubah menjadi bumerang bagi dirinya. Dia berlari masuk ke dapur. Lantai licin membuat keseimbangnnya hilang.

Dia terjatuh. Kepala bagian belakangnya terbentur lantai yang menyebabkan bengkak. Pastinya dia nangis. ”Kepalanya bengkak. Untung tangannya masih bisa menahan, jadinya tidak fatal,” kata Bunda seraya mengelus bengkak di kepala G.

Kami hanya berharap, rasa ingin tahunya tidak berakibat membahayakan dirinya. Kami harus lebih waspada dan memastikan G terus dalam pengawasan.

Besok G mau bikin apa lagi? Mau kencingi kasur Puang Pipa lagi … Capek dong Puang Pipa mencuci seprey.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: