Belajar Mandiri

G Tidak Suka Disuap

KEBIASAAN G yang lebih senang menyuapi dirinya sendiri sudah berlangsung lama. Pastinya saya kurang ingat, tapi pastinya umur G belum lagi masuk satu tahun. Dia lebih senang makan tanpa disuap oleh kami.

Meski makanannya belepotan di bibir, sampai wajah, dan bahkan kepala hal itu membuat kami senang. Karena motoriknya G belum normal, terkadang makanan lebih banyak yang tumpah atau berserakan dilantai dibanding dengan yang dimakannya.

Kegembiraan kami adalah karena G seolah menunjukkan kemandiriannya. ”Saya bisa makan sendiri kok.” Mungkin pesan itu yang ingin disampaikan G kepada kami. Jadi, setiap G makan, kami hanya memberikannya di piring khusus dan membirakannya makan.

Saya pikir, tidak hanya kami. Semua orangtua yang punya anak pastinya menginginkan generasinya kelak menjadi pribadi yang mandiri. Apa yang harus saya lakukan agar G menajdi pribadi yang mandiri. Meski terlalu dini saya menilai bahwa keinginannya makan sendiri adalah bentuk kemandirian, tapi saya berharap itu menjadi dasar di masa datang.

Menjadi orangtua adalah harapan dan keinginan kami untuk menerima kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kami berdua. Kami harus menciptakan formulasi bagaimana kami mendidik G menjadi pribadi yang sempurna.

Mengenai kemandirian, kami akan kembali kepada pelajaran yang Tuhan berikan kepada kami. Saat Tuhan memberikan kami rejeki berupa anak, maka Tuhan tentunya menuntut kemandirian dari kami berdua untuk menjalani hidup.

Dasar itulah yang akan kami formulasikan kepada G. Dasar kemandirian dari Tuhan menurut saya berada pada konsep dasarnya, kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab. Bagaimana Puang Etta dan Mama Puang mengajarkan kemandirian kepada saya (sembilan bersaudara), kembali jelas dalam ingatan saya.

Karena memori saya yang terbatas, mungkin banyak cerita yang hilang. Saya yakin, Puang Etta dan Mama Puang mengajarkan kemandirian pada semua anaknya, tapi mungkin dengan metode yang berbeda. Saya hanya menceritakan bagaimana beliau mengajarkan kemandirian kepada saya.

Paling teringat dalam memori saya adalah bagaimana beliau mengajarkan itu pada saya dan Puang Subhan atau Puang Sobec. Memori saya paling dekat ke sana karena memang hitungan umur kami tidak terlalu jauh, hanya terpaut dua tahun. Boleh dikatakan, hampir seusia.

Sedari kecil, Puang Etta memberikan kami berdua kepercayaan. Saya masih ingat sekali, sepasang ayam kate warna putih (jantan) dan hitam (betina) diberikan kepada kami berdua untuk kami pelihara. Selain itu, ada ayam kampung yang jumlahnya banyak juga dipercayakan, diamanahkan, dan menjadi tanggung jawab kami berdua.

Tidak hanya itu, sama Puang Etta kami juga diberikan kambing dan domba untuk kami pelihara. Waktu itu, kami masih anak SD yang diberikan beban itu. Jika saya pikirkan sekarang, ternyata pekerjaan itu berat.

Dalam proses itu semua, ayam kate kami berkembang, kambing bertambah, dan begitu juga dengan domba. Yah, meski dalam prosesnya tidak sedikit masalah yang kami, saya dan Puang Sobec, hadapi dan harus diselesaikan dengan tradisi koboy.

Pagi-pagi kami bangun, memberikan makan semua ayam, mengeluarkan kambing dan domba dari kandang lalu membawanya ke lapangan. Setelah itu, barulah kami berangkat ke sekolah. Sepulang dari sekolah, kami harus memindahkan kambing dan domba ke tempat yang lebih rindang serta memberinya minum.

Kesibukan kami akan semakin bertambah kala senja menjelang. Redupnya mentari membias lembayung senja, membawa kami harus bersegera menyelesaikan permainan dan pulang ke rumah. Memberi makan ayam dan mengambil sabit dan parang. Yah, kami harus mengambil daun untuk makanan kambing.

Dengan tangan-tangan kecil kami harus memanjat, kena duri, sengat lebah, dan gatal seluruh badan sudah menjadi cerita yang biasa. Setelah daun-daun digantung dalam kandang, kami memasukkan kambing dan domba. Kesibukan yang rutin kami lakukan.

Tidak hanya itu, karena halaman rumah di Jalan Titang luas, Mama Puang dan Puang Etta kadang mengajari kami bercocok tanam. Tanam singkong dan sayuran. Kami diberikan tanggung jawab areal yang harus kami jaga. Makanya waktu kami kecil, ada kelapa yang memang punya saya. Kelapa itu saya yang tanam dengan rangkaian ritual yang Puang Etta lakukan.

Semua kami lakukan saat kami masih kecil. Apa yang kami lakukan itu baru berakhir saat saya masuk pesantren. Pastinya saya harus tinggal di pesantren.

Saya yakin, saat G membaca ini, pasti kondisi jaman sudah sangat berubah. Jaman sudah sangat menghargai yang namanya hak-hak anak dan eksploitasi. Saya yakin G pasti akan punya pemikiran, Puang Etta mengeksploitasi kami dengan sejumlah pekerjaan yang dibebankan pada kami. Puang Etta menghilangkan masa gembira kami, saya dan Puang Sobec.

Saya berani menjawab tidak. Meski dengan itu semua, kami tetap menjadi anak yang sangat gembira di masa kecil. Kami tetap aktif bergaul dilingkungan, malah untuk dilingkungan kami, saya dan Puang Sobec termasuk anak yang cukup dikenal. Yah kecakapan dalam bergaul, kreativitas, maupun kenakalan yang membuat kami mudah diingat.

Berdua, di lingkungan dan pergaulan kami tidak pernah menjadi ”anak buah”, malah senantiasa diberikan posisi bagus oleh teman-teman. Bicara soal ekploitasi, kira-kira apa yang mau diekploitasi Puang Etta dan Mama Puang. Alhamdulillah, saat itu bisa dikatakan kehidupan kami cukup lumayan. Puang Etta yang dulunya pengusaha yang beralih menjadi PNS, masih menyisakan sedikit sisa-sisa ”kejayaan”. Mama Puang kan juga PNS, jadi lumayan lah. Rumah kami di Jalan Titang, waktu itu termasuk lumayan menonjol dibandingkan yang lainnya, karena termasuk rumah paling besar kala itu.

Gambaran sederhananya, bisa ditanya sama Puang Nanna. Tahun berapa dia SMA dan di sekolahnya berapa biji orang yang punya motor ke sekolahnya. Tidak ada dalam hati saya sedikitpun rasa kesombongan saat saya menulis ini, yang saya inginkan kepada G adalah agar mengerti dan mendapat gambaran bahwa jika dikatakan eksploitasi, saya tidak mendapatkan alasan untuk itu.

Buktinya, kalau ada ayam kate kami yang dibeli sama orang Cina, toh kami simpan sendiri untuk ditabung. Puang Etta tidak pernah memintanya sebagai pembeli makanannya. Tanggung jawab kami hanyalah memelihara.

Saya yakin, Puang Etta ingin mengajarkan kami akan sebuah kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab yang pada akhirnya berbuah pada kemandirian kami untuk survive mengarungi hidup.

Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana Puang Sobec dibelikan seperangkat alat montir elektronik. Semua lengkap, mulai obeng dari berbagai ukuran sampai solder. Puang Etta belikan itu waktu pulang dari Jakarta. Memang waktu SMP, Puang Sobek punya ketertarikan untuk di bidang elektronika.

Begitupun saya. Waktu sudah SMA (MAN) kelas 1, Puang Etta melihat saya ada ketertarikan pada musik. Tanpa saya sangka, Puang Etta pulang dari kantor dan memberikan saya kuitansi bukti pembelian gitar di toko Kawan Setia. ”Pilih gitar yang kamu sukai di sana,” kata Puang Etta. Satu gitar mungkin dianggap Puang Etta masih kurang untuk saya, sekitar beberapa bulan kemudian, dia kembali membelikan saya orgen yang cukup besar untuk saya pelajari.

Ada kepercayaan yang diberikan oleh Puang Etta dan Mama Puang terhadap apa yang kami minati. Terhadap semua barang itu kami harus mempertanggungjawabkannya. Dengan semua itu, kami diberikan kemandirian untuk merawat dan menjaganya. Kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab.

Yah, di jaman yang sudah berubah ini, kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab Tuhan yang harus saya terjemahkan untuk G menjadi lebih mandiri. Meski saya sadar, kondisi ekonomi saya sekarang tidak seperti Puang Etta dan Mama Puang waktu G seumuran saya. Saya yakin, secara ekonomi, Puang Etta dan Mama Puang jauh lebih hebat dan mapan. Sebelum saya lahir, Puang Etta sudah punya mobil, kapal, rumah, dan investasi lainnya. Dibandingkan saya, hingga saya menulis cerita ini, Selasa (5/8/2008), saya hanya punya motor Honda Supra Fit yang baru masuk cicilan ke-10.

Tapi, dari itu semua, saya pikir, ada hal subtansi yang harus dilanjutkan. Memberikan kepercayaan, amanah, dan tanggung jawab kepada G agar dia lebih mandiri harus diformulasikan dengan bijaksana.

Bunda dan saya harus mempersiapkan pondasi moral untuk G dalam mengarungi hidup. Keinginannya untuk makan sendiri menjadi pelecut harapan besar kami, G akan menjadi anak yang mandiri. Dan pastinya, lebih baik dari kami. Amin.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: