Ayunan

Cerita Seru di Imperial Aryaduta Hotel

BAGAIMANA G tanpa ayunannya? Jawabannya hanya satu, pasti repot. Itulah yang terjadi di Imperial Aryaduta Hotel. Kisah ini berawal saat kedatangan Puang Iding dan Tante Mien dari Palangkaraya, Kalteng.

Seperti biasanya, Puang Iding dan Tante Mien langsung ke Bone menemui Puang Indo. Sebelum pulang, mereka pasti menyempatkan diri menginap di Makassar barang 1-2 hari. Seakan sudah tradisi, saat di Makassar itulah menjadi waktu bagi kami, ponakan untuk berkumpul dengan beliau.

G menjadi peserta baru yang memang sudah menyertai Puang Iding dan Tante Mien sejak dari Bone. Puang Iding menyewakan tiga kamar di hotel berbintang lima yang berlokasi di bibir Pantai Losari itu.

Bagi orang dewasa pastilah nyaman tidur di hotel berbintang lima dengan segala fasilitas dan pemandangan Pantai Losari. Tapi, tidak demikian bagi G. Awalnya, G sangat menikmati, tapi masuk pukul 21.00 Wita, dia mulai maranaka alias rewel tanpa sebab.

Maklum sudah masuk waktu tidurnya. Pertanyaannya kenapa tidak tidur saja kalau begitu? Nah itulah masalahnya karena G tidak bisa tidur tanpa diayun.

Biasa dibayangkan bagaimana caranya memakai ayunan di hotel? Pihak hotel tidak menyediakan fasilitas gantungan ayunan. Maka jadilah satu kamar kami dibuat pusing, bagaimana cara menidurkannya?

Puang Nanna, yang juga menginap bersama Puang Renal, Daeng Umpa, dan Daeng Fadli di kamar sebelah, terpaksa turun tangan. Bagaimana caranya menidurkan anak yang sudah ketergantugan ayunan. Coba digendong tetap tidak mujarab.

Mama Puang yang satu kamar dengan kami pun kebingungan. G yang biasa sangat nurut dengan Mama Puang tetap tidak bisa menanggulangi rewelnya G. Hingga akhirnya Puang Nanna punya akal. Selimut kotel dibentangkan dan dipegang kedua sisinya.

Setelah itu, G dimasukkan dalam selimut itu dan digoyang-goyangkan seperti ayunan. ”Jama-jamang loppo na yanne,” kata Puang Nanna dengan nada bercanda. Bunda dan Puang Nanna terus menggoyang ayunan kreatif mereka.

Cara ini lumayan ampuh membuat mata G perlahan menjadi lima watt alias mengantuk. Setelah beberapa lama dan membuat lengan Puang Nanna serta Bunda pegal, G akhirnya terlelap. ”Susah ini anak, tidak bisa tidur di hotel kalau begini. Bagaimana mi caranya kalau pergi-pergi,” kata Puang Nanna lagi.

Meski lumayan pegal, ternyata itu menjadi cerita seru yang dibahas panjang oleh kami. Yah… G bikin heboh lagi. Bagi G, kenyamanan tidur tidak ditentukan oleh berapa banyak bintang hotel, tapi seberapa lembut pegas pada ayunan. Meski terkadang ayunan ”saktinya” berbau pesing.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: