Tanpa G dan Bunda

Ulang Tahun ke-30

HARI ini, 20 Maret 2008, saya berulang tahun yang ke-30. Ternyata saya bertambah tua. Hari ini bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Teringat saya dengan sabda Nabi Muhammad yang mengatakan kalau usia ummatnya sekitar 60 tahun.

Artinya, saya sudah separuh perjalanan. Alhamdulillah saya sudah punya satu generasi. Jika memang saya harus menempuh 60 tahun perjalanan dunia, usia G sudah seperti saya jika saya tinggalkan.

Awalnya saya lupa dengan hari ulang tahun saya. Tapi, saudara memberikan saya surprise dengan datang ke Antang (rumah yang saya tinggali). Benar-benar surprise. Awalnya saya heran kenapa semua saudara tiba-tiba datang ke rumah. Tidak biasanya. Ternyata saya baru tahu waktu Kak Eva (Mama Eva, bunda Abang Rio, istri Puang Sobek) mengulurkan tangan sebagai ucapan selamat. “Selamat ulang tahun,” katanya. Ternyata ini jawaban dari keheranan saya.

Ulang tahun saya dirayakan dengan makan bakso. Puang Nanna yang traktir. Seandainya Bunda dan G datang. Tahun lalu, saya tidak ingat bagaimana perayaan ulang tahun saya. Sepanjang hidup saya, hingga hari ini, Jumat (21/3/08), perayaan yang paling berkesan adalah saat saya berulang tahun yang ke-28 di Batam.

Saya merayakan ulang tahun hanya berdua dengan Bunda di rumah kontrakan. Itu yang paling berkesan. Malam sebelum bunda memberikan kejutan, saya pulang dari kantor sekitar pukul 23.30 malam. Seperti biasanya saya tidak mengingat ulang tahun saya. Tengah malam, saya kaget waktu Bunda memberikan saya kue tart.

Ternyata Bunda sudah mempersiapkan segalanya. Paling berkesannya, karena saat itulah kami harus bicara serius mengenai masa depan kami. Termasuk untuk memiliki anak. Kami berhitung usia. Bunda juga sudah berusia 27 tahun, dan di akhir tahun Bunda akan masuk usia 28 tahun. Kami harus menyusun rencana.

Dini hari itu, kami membulatkan tekad untuk memiliki momongan. Saya sangat yakin itulah awal keberadaan G.

Saya ingat sekarang. Tahun lalu saya berulang tahun ke 29 di Makassar. Waktu itu, Puang Pipa memberikan saya hadiah baju hitam. Artinya sudah dua tahun terakhir ini saya melewati pergantian tahun usia tanpa kehadiran Bunda dan G.

Seandainya G ada disini bersama Bunda, saya yakin ulang tahun saya akan lebih berkesan. Waktu ngumpul bersama dengan saudara, Puang Nanna dan Puang Pipa bercerita mengenai kepintaran G. Dia bercerita waktu G di pesta pernikahan saudara sepupu saya di Bone. Mereka bercerita kalau G sekarang sudah pintar. Kalau dengar musik dangdut dia bergoyang. Tapi, pas lagunya Broery Pesolima dinyanyikan, G langsung diam-diam (ternyata G suka lagu dangdut).

Cerita itu membuat saya kembali kangen. Terakhir saya bertemu dengan G waktu awal bulan kemarin. Memang waktu yang cukup panjang. Seandainya G dan Bunda di Makassar…

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 7, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: