Fase Perjuangan

G Sudah Belajar Jalan

BANYAK perkembangan yang terlewatkan dari G yang tidak saya nikmati. Ada banyak hal yang harus menjadi pertimbangan sehingga saya harus melewatkan hal itu. Sudah sebulan lebih saya harus menetap di Makassar, sementara G dan Bunda harus di Bone. Tapi, saya terpaksa melewatkan itu semua karena niatnya hanya satu, tentunya untuk G dan Bunda.

Awal bulan Maret 2008, saya pulang ke Bone. Ada perkembangan yang luar biasa. G sudah bisa berjalan. Tepatnya tanggal 1 Maret 2008. G seakan ingin memperlihatkan kehebatannya kepada saya. G naik keatas meja dan berdiri. Menari-nari. Ada banyak perkembangan yang saya lewatkan. G semakin cerdas berkomunikasi. G sudah bisa bergoyang, mengikuti gerakan tepuk tangan dan tangan di kepala. Mengikuti irama saat kita bernyanyi. Jika mendengarkan musik, G langsung berdiri dan menari. Tapi, yang paling membahagiakan adalah G sudah bisa berjalan. Belajar berjalan tepatnya. Selangkah demi selangkah, sampai tiga lima langkah.

Alhamdulillah. Ada yang penyesalan yang paling besar dalam benak saya, kenapa saya tidak bisa menikmati semua fase perkembangan anak saya. Waktu saya tiba di Bone, G sepertinya menyimpan kerinduan sama dengan saya. G langsung minta digendong. Nenek Aji sampai mengomentari karena beberapa saat G tidak mau lepas dari gendongan saya. Mau diambil sama bunda dan neneknya pun enggan. “Dia juga rindu,” kata Bunda.

Dua hari bersama, saya harus kembali ke Makassar, meneruskan tanggung jawab lain yang menunggu. Meski berat, semua harus berjalan karena saya yakin apa yang saya lakukan hari ini dan apa yang terjadi semua akan mengarah pada satu titik. Semua untuk kita.

Sekarang sudah tanggal 14 Maret 2008. Saya baru kembali menulis catatan ini. Kenapa saya sekarang agak malas menulis di lembaran ini. Alasannya karena jika saya menulis kerinduan akan semakin membuncah. Hanya foto yang menjadi pelepas rindu. Beberapa teman kadang berkomentar ketika saya kadang tertawa, dan seakan bercanda dengan foto G yang ada dalam komputer. Tapi, saya pikir hanya itulah yang menjadi pelampiasan rindu.

Dalam banyak buku dan pandangan pakar psikologi, hidup seperti ini, akan berdampak kurang baik. Mungkin ada benarnya. Saat saya pulang, G seakan tidak mau lepas dalam pelukan. Begitupun saya. Ada kerinduan yang sangat dahaga.

Begitupun ketika saya harus berangkat. Ada butiran bening yang tidak bisa saya tahan. Ketika saya melihat G yang digendong Bunda melepas kepergian saya, orang akan mengatakan, G belum mengerti. Tapi, sebagai ayah yang sebagian darahku mengalir padanya, ada ketidakrelaan. Toh semua harus berjalan. Semua harus ternikmati.

Dengan sangat terpaksa apa yang difatwahkan dalam buku dan pakar psikologi, terpaksa saya nafikan. Saya kembalikan semuanya kepada Tuhan. Dalam hati ada niat tulus untuk kebaikan. Niat yang nantinya akan saya terjemahkan dalam hidup anak dan istriku kelak.

Saya yakin ada hikmah dengan apa yang kita jalani sekarang. Keyakinan terbesar saya, G akan semakin kuat. G akan lebih mandiri. G akan lebih punya tanggung jawab menjaga Bunda. Sedari dini, G sudah memposisikan diri sebagai tulang kuat Bunda dan saya. Itu harapan kami. Kami yakin tidak selamanmya akan seperti ini.

Ada janji dalam hati saya, kita akan berkumpul dan menjalani kehidupan normal setelah fase ini selesai. Meski saya, bunda, dan G patinya tidak tau pasti kapan fase ini akan berakhir. Saya yakin dalam keyakinan terbesar saya, keadaan itu pasti akan tiba.

Kami, saya dan Bunda, sudah berjanji bahwa fase ini kita anggap sebagai fase perjuangan. Kita sementara berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam perjuangan pasti akan ada yang kita korbankan. Dalam pengorbanan itulah kami butuh kesabaran dan keteguhan hati karena hanya dengan itulah cita-cita besar akan tercapai.

Tapak-tapak kecil yang G lakoni saya yakin akan berbuah langkah tegar. Langkah pelan yang terpelajari, saya yakin akan melaju. Kapan waktunya, tinggal seberapa sabar, teguh, dan tegarnya G untuk melakoninya.

Pagi hari ini, pukul 05.30 Wita, saya tidak tau sudah seberapa langkah yang G pelajari

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 7, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: