Assalamualaikum Dunia

Hampir Terlambat

SAYA hampir saja terlambat dan tidak menyaksikan kelahiran G. Waktu itu, Bunda sudah di Bone menanti kelahiran, sementara saya masih di Makassar. Meski sebelumnya kami sudah mempersiapkan semuanya.

Persiapan rumah sakitnya, perlengkapan melahirkan, dan lainnya. Semua saudara pun sudah membantu mempersiapkan segala perlengkapannya. Mulai dari popok, bedak, tempat tidur, dan lainnya. Mereka seakan berlomba memenuhi semua kebutuhan G.

Saya pikir, banyak rejeki juga anak saya. Walau semua sudah siap, tapi kalau saya tidak liat G lahir pasti akan menyesal juga. Perasaan Bunda yang mau melahirkan mungkin sudah dirasakan waktu dia minta dibelikan baskom mandi untuk G.

Kembali ke soal hampir terlambat. Hari Selasa (23/1/2007), kenapa perasaan saya sudah mau sekali pulang ke Bone. Saya telepon Bunda katanya masih belum apa-apa.

Menurut perkiraan dokter di Batam dulu, kemungkinan memang akhir Januari. Tapi menurut dokter di Bone, waktu terakhir kami periksa, katanya, awal Februari. Malah dibilang kemungkinannya terlambat.

Tapi, kenapa perasaan saya sudah mau pulang. Besoknya, Rabu (24/1/2007) saya pulang ke Bone. Awalnya memang terlihat belum ada tanda-tanda. Kamis subuh, Bunda masih terlihat santai. Rasa sakit baru dirasakannya saat pagi.

Waktu saya tanya, Bunda bilang belum. Katanya biasa saja. Pagi itupun saya ke Jl S Limboto, rumah kakek-nenek G. Sekitar pukul 11.00 Wita, Bunda menelpon meminta agar saya segera pulang.

Katanya sudah sakit sekali. Karena mau langsung diantar ke rumah sakit, mobil Daeng Ibrahim, bapak Daeng Mumut, saya pakai ke Jl Husain Jeddawi. Bunda bersama Mama Aji dan Bapak Aji pun saya angkut ke Rumah Sakit Umum Tenri Awaru.

Bergegas, kami menuju ruang persalinan. Petugas yang ada disana justru terlihat tenang-tenang saja. “Masih lama,” katanya. Saya tidak ingat dia bilang bukaan berapa. Bunda disuruh banyak jalan. Jalan mondar-mandir dengan sakit yang tidak tertahan.

Melihat Bunda seperti itulah saya tersadar, memang berdosa besar seorang anak kalau dia menyakiti ibunya. Kenapa orang India sangat menghargai dan mengormati seorang ibu mungkin karena dia melihat proses kelahiran itu. Bunda saya liat sangat tersiksa dengan kesakitannya.

Namun, dia mencoba begitu tegar. Pegangan tangannya dipudakku hanya sebagai pelampiasan permohonan bantuan yang tidak bisa terbagi. Saya berharap, dengan sedikit elusan dan pinjaman pundakku bisa sedikit mengurangi rasa sakit, meski sebenarnya saya tahu, Bunda bangga melakukan itu. Hanya berhitung beberapa jam ke depan, Bunda akan menjadi seorang perempuan yang sempurna. G akan lahir.

Waktu saya rasakan berjalan lamban. Menjelang kelahiran, sekitar pukul 22.00 Wita, suster yang menanganinya mengatakan kalau Bunda sangat lelah. Kurang tenaga untuk melakukan pekerjaan mulianya. Suster meminta saya memberinya makan dan minum susu.

Hadir saat itu, Puang Etta, Mama Puang, Nenek Aji, Kakek Aji, Nenek Bunda, dan, Puang Ani, Puang Ati, Puang Ammi, Puang Nanna. Semua menunggu dalam kecemasan.

Malam itu, ruang persalinan sangat ramai. Saya juga tidak mengerti kenapa malam itu begitu ramai dengan perempuan yang akan melahirkan. Tidak ada ruang VIP yang tersisa. Semua penuh. Kami hanya dapat daftar tunggu. Bangsal pun hampir semua penuh.

Pukul 23.00 Wita, kondisi semakin menegangkan. Sakit yang dirasakan Bunda semakin kuat. Semua berpikir, tidak lama lagi. Saya hanya bisa menyemangati, meski saya tahu Bunda lebih kuat untuk menyemangati dirinya sendiri.

Pukul 23.30 Wita, saya keluar ruangan persalinan. Satu yang harus saya lakukan adalah meminta pertolongan Tuhan. Saya menuju musallah yang berada di belakang ruang persalinan. Di situ saya salat dua rakaat meminta pertolongan Tuhan diiringi doa panjang saya. Usai doa panjang, saat berjalan keluar menuju ruang persalinan saya mendengar teriakan bayi. Hati saya langsung terketuk kalau itu tangis anak saya.

Ternyata benar, dia anak saya. Saat saya mau masuk ruang persalinan, suster menyuruh menunggu di luar. Tidak lama kemudian, bayi mungil dalam bungkusan kain sarung digendong dengan sangat hati-hati oleh suster. Bayi itu diserahkan kepada saya untuk diazani. Lama saya tertegun melihat anak saya. Buah cinta kami telah berwujud.

“Hidungnya mancung. Ganteng sekali,” kata orang-orang melihat anak kami. Saya tidak mengerti apa yang mereka perhatikan sampai mengatakan ganteng.

Yang saya lihat, G hanya seorang bayi mungil yang terlihat bengkak. Saya tidak melihat G ganteng. Hanya saya liat kelopak matanya besar. Saya hanya berpikir, mata Bunda. Karena mata saya sipit.

Bergantian G digendong. Saat itu, saya bisa memastikan itulah kegembiraan terindah dalam hidup yang saya rasakan. Lahirnya generasi dari seorang istri tercinta. Terucap doa semoa G sehat.

Hampir saya menyesal tidak melihatmu lahir anakku…

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 7, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: