Gocekan Zizou

Banyak Goyang

BAGAIMANA kondisi G dalam kandungan? Ini ceritanya. Awal kehamilan, bunda mengalami ngidam yang tidak terkira. Selalu muntah, apa saja yang masuk ke mulut, tidak lama pasti keluar dalam bentuk muntahan.

Alhamdulillah, perkembangan ilmu pengetahuan sudah semakin maju, sehingga sudah ada namanya susu untuk mengurangi mual karena ngidam. Konsumsi susu terpaksa dipaksakan. Karena kami ingin generasi yang lebih HEBAT daripada kami berdua.

Secara rutin kami meriksakan G ke dua orang yang kami anggap ahlinya. Pertama, bidan Dora. Bidan yang tempat prakteknya tepat bersebelahan dengan rumah kontrakan kami di Bengkong, Batam.

Kedua, Dr Suyanto, dokter ahli kandungan yang katanya paling hebat di Batam saat itu. Meski mahal (untuk ukuran kami saat itu) kami tidak peduli. Yang penting G bisa sehat. Memasuki bulan ketiga kehamilan, Bunda ingin melakukan USG. Berangkatlah kami ke tempat praktek Dr Suyanto.

Saat akan USG, saya menolak untuk masuk ke ruangan. Saat itu, saya merasa belum siap mental untuk melihat isi dalam kandungan Bunda. Entah kenapa. Tapi, saya beralasan kalau saya tidak ingin mengganggu konsultasi bunda dengan dokternya. Mungkin ada yang prinsipil yang harus ditanya dan dijelaskan.

Tapi, intinya saya merasa belum siap saja. Dengan sedikit paksaan dari dokter, saya masuk ke ruangan periksa.

Sebelum saya melihat hasil USG, apa yang paling menggembirakan saya rasakan dalam hidup? Ketika saya manjat tebing bersama teman-teman dan berhasil mencapai puncak selanjutnya memasang bendera merah Korpala Unhas sebagai tanda.

Ternyata, ada kebahagiaan di atas itu. Masih ada yang mengalahkannya.

Saya melihat hasil USG buah cinta kami. “Tuh dia bergerak-gerak. Tangannya hormat sama bapaknya. Coba liat,” kata Dr Suyanto. Secara tidak sadar saya berdiri dari kursi dan maju ke depan gambar besar di dinding putih. Peralatan Suyanto memang lebih canggih sehingga kita bisa melihat gambar lebih besar yang ditembakkan dengan LCD ke layar dari alat pendeteksi dengan komputer.

Saya berdiri semakin mendekati layar. Tidak sadar ternyata tindakan saya yang berdiri semakin mendekat menghalangi cahaya. Saya pun tertawa sendiri. Tapi, itulah yang saya rasakan kegembiraan terindah yang saya rasakan saat itu.

G sudah bergoyang. Kata Suyanto, G sangat sehat. Suyanto menganjurkan untuk makan yang banyak. “Makan seperti biasa. Tidak ada pantangan. Tahu, tempe, makan saja semuanya. Sayur buah, susu. Saya tidak ada pantangan,” katanya.

Sepanjang jalan, tidak hentinya kami bercerita gembira. Malam itu, kami merayakannya dengan makan di rumah makan langganan kami. Di rumah makan Padang yang berada di puncak bukit. Di tempat itulah kami berdua sering makan kalau kami punya sedikit rejeki atau sekedar menyenangkan diri.

Perkembangan G kami rasakan sangat luar biasa. Satu bulan kemudian, kami sudah memastikan jenis kelaminya, laki-laki. Insya Allah anak pertama kami laki-laki. Beberapa bulan, seakan G sudah bisa diajak komunikasi.

Tapi, yang paling luar biasa, G paling banyak goyang. Sehingga kadang perut bunda seperti tidak berbentuk. Dikit-dikit selalu menendang. Tetangga kami, Eko Haryono juga punya istri, Nita (anaknya laki-laki yang kemudian diberikan nama Dafa) yang saat itu sedang hamil. Kehamilannya mungkin hanya terpaut tiga bulan dengan G. keagresifannya tidak seperti G. Kata Nita, G lebih aktif.

main bola yuk...

main bola yuk...

Yah, alhamdulillah, saya pikir itu berkah. Artinya G sehat.

Memasuki bulan Ramadan, Bunda dilarang puasa oleh dokter karena katanya bayinya kecil. Saat itu kalau tidak salah kehamilan memasuki usia antara lima sampai enam bulan. Bunda pun tidak puasa demi menjaga kondisi. Tapi, goyangnya masih sangat luar biasa. Mencong ke kanan atau ke kiri. G juga suka goyang kalau dibawa naik motor.

Kuatnya bergoyang semakin menjadi saat memasuki usia tujuh bulan. Nendangnya sangat kuat. Saat itu kami berpikir mungkin wajar, karena saat hamil, Piala Dunia 2006 sedang berlangsung. Bintang-bintang sepak bola dunia kami tonton hampir tiap malam. Malah Bunda juga ikut nonton bareng di kantor menyaksikan kehebatan gocekan Zinedin Zidane, pemain asal Perancis yang biasa dipanggil Zizou.

Saat itu, saya sempat terpikir memberi G nama Zizou karena dia terpilih sebagai pemain terbaik. Muslim lagi. Namun, karena tindakannya yang kurang etis, menanduk pemain belakang Italia, Matterazzi, yang menodai prestasinya membuat rencana saya urung. Meski disatu sisi saya salut dengan tindakannya, tapi disisi lain, saya menginginkan kesempurnaan. Saat itu, Italia keluar sebagai juara dunia.

Mungkin G mau jadi pemain bola? Mungkin saja. Tapi, dari awal, Bunda mau G jadi dokter. Apalagi kalau kami saling bercerita soal Dr Suyanto yang sangat luar biasa. Menurut kami, kalau G bisa seperti dia sangat luar biasa. Menolong orang, dan pasti banyak yang bisa dilakukan untuk hal-hal sosial. Meski kami sadar, semua pilihan ada di tangan G. yang bisa kami lakukan hanya mempersiapkan apa yang terbaik. Mempersiapkan gizinya, membacakan lantunan doa, membacakan Surah Yusuf, dan ayat-ayat suci lainnya sebagai bekal.

Besar harapan kami, dengan tanda-tanda yang diperlihatkan G dengan banyak goyangnya, kami yankin G akan menjadi anak yang luar biasa. Kami yakin itu.

~ oleh Andi Galang Arzachel Pasinringi Pasinringi pada September 6, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: