“burung”
“kenapa G sama ayah punya burung”
pertanyaan itu menggelitik ayah pagi ini. G tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu. pertanyaan yang muncul dari pemikiran kreatifnya…. hehehe, bagaimana menjawabnya.
sejenak saya tergagap. saat itu memang saya sedang mandi dan G membuka pintu kamar mandi. mata jenakanya bermain indah. “iyah ayah. ini burungnya G, ayah juga punya burung,” tambah G.
G memang masih bertelanjang karena barusan mandi. sebelum dia bertanya lebih lanjut, “kenapa burungnya G tidak sama dengan burungnya ayah (hehehehe….),” saya harus jawab cepat.
“G kan laki-laki. ayah juga laki-laki, jadi punya burung. bunda ayah burung tidak?” tanya ayah balik.
“tidak ada,” seraya dia berlari ke arah bundanya untuk memerjelas apakah dia punya burung atau tidak. jawaban bundanya G sampaikan sama ayah dengan tegas. “tidak ada ayah.”
“karena bunda perempuan. ade’ ali ada burung tidak?”
“ada.”
“daeng fadli sama daeng umpa ada burung?”
“ada.”
“karena dia laki-laki. kalo daeng mumut sama daeng nisa ada burung tidak?”
“tidak ada.”
“karena dia perempuan sama dengan bunda?”
sambil mandi saya menjelaskan burung dan bukan burung….heheheh. (itupun sambil mandi). mudah-mudahan penjelasan ayah bisa dimengeri G yang coba saya sampaikan sesederhana mungkin.
untuk selanjutnya mungkin masih akan banyak pertanyaan-pertanyaan kritis yang lebih rumit. yah, bisa saja pertanyaan lanjutan, kenapa laki-laki punya “burung” dan perempuan punya “titit”. apa gunanya? atau masalah gender, patriarki, dan lain sebagainya.
cukuplah pelajaran hari ini, minggu (9 januari 2011) mengenai “burung”.
kira-kira kapan G akan menyakan, “kenapa burung ayah dan G beda?”






